Sabtu, 07 Maret 2026

Spesial untuk kamu


 

"Kamu berharga, jadilah seperti berlian di dasar laut"


Dunia hari ini merayakan Hari Perempuan Internasional sebagai pengingat akan sejarah panjang perlawanan terhadap penindasan. Jauh sebelum itu, dalam Islam, kemuliaan perempuan pun telah diabadikan melalui satu surah khusus di Al-Qur'an: Surah An-Nisa.


Namun, jika kita melihat berita hari ini, muncul sebuah pertanyaan besar: Mengapa kekerasan terhadap perempuan seolah tak kunjung usai?


Hari Perempuan Internasional tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari keringat dan suara 15.000 perempuan yang berbaris di New York pada tahun 1908, menuntut hak-hal dasar: upah layak, jam kerja manusiawi, dan hak suara.


Selaras dengan itu, Al-Qur'an hadir membawa perubahan revolusioner. Kita tentu ingat betapa gelapnya zaman jahiliah, di mana perempuan dianggap sebagai komoditas, objek hasrat, bahkan diperlakukan tanpa martabat. Rasulullah SAW hadir untuk menghentikan itu semua, mengangkat derajat perempuan dari titik terendah menuju posisi yang sangat mulia.


Realita "Jahiliah Modern"

Meski zaman telah berganti, kita seolah terseret kembali ke masa kegelapan itu. Fenomena kekerasan seksual kini merajalela tanpa pandang bulu:

  • Di Tempat Suci: Kasus yang terjadi di masjid atau lingkungan ibadah.
  • Di Lingkungan Pendidikan: Relasi kuasa yang timpang antara dosen dan mahasiswa.
  • Di Ruang Publik: Pelecehan di jalanan hingga transaksi di marketplace.
  • Di Tempat Paling Aman: Kekerasan yang justru terjadi di dalam "Rumah".

Sangat menyakitkan mengetahui bahwa tempat yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi lokasi trauma.


Menjaga Kehormatan: Tanggung Jawab Kolektif

Kita sering melihat dua sisi yang memprihatinkan. Di satu sisi, ada upaya besar memuliakan perempuan, namun di sisi lain, fenomena degradasi moral juga terjadi. Namun, kita tidak bisa hanya menunjuk satu jari.


Al-Qur'an telah memberikan solusi yang sangat seimbang:

  • Bagi Perempuan: Perintah untuk menjaga kehormatan dan menutup aurat sebagai bentuk perlindungan diri.
  • Bagi Laki-laki: Perintah untuk menundukkan pandangan (ghadhul bashar).

Penting untuk dipahami bahwa menundukkan pandangan bukan sekadar menundukkan kepala secara fisik, melainkan menundukkan syahwat yang memenuhi pikiran. Keamanan bagi perempuan akan tercipta jika kedua sisi ini berjalan beriringan.


Pesan: Dari aku untuk seluruh Perempuan di luar sana

Perempuan adalah tiang peradaban. Mari kita terus berkarya, menjadi versi terbaik dari diri kita, dan menebarkan manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Namun, dalam setiap langkah besar itu, jangan pernah lupa untuk tetap menjaga harga diri dan kehormatan sesuai dengan fitrah dan aturan yang telah ditetapkan Sang Pencipta.


Satu hal yang perlu kita ingat:

"Memuliakan perempuan bukan hanya tugas perempuan untuk menjaga diri, tapi tugas dunia untuk menciptakan ruang yang aman bagi mereka."


Kita berharga, kita mulia, dan kita layak untuk dilindungi.


Kamis, 26 Februari 2026

Kerajaan yang Runtuh dan Pemimpin yang Bersyukur: Mengapa Surah Saba’ Adalah Peringatan Bagi Era Digital


 "..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,..."
QS. Ibrahim: 7

Terkadang, inspirasi datang dari arah yang paling tidak terduga. Tulisan ini lahir dari sebuah "kebetulan" kecil saat saya memperhatikan dua status WhatsApp secara berurutan, keduanya memiliki jumlah penonton yang berakhir di angka 34. 

Rasa penasaran membawa saya membuka kembali Surah ke-34 dalam Al-Qur'an: Surah Saba’. Ternyata, di dalamnya tersimpan pesan yang sangat menohok tentang kekuasaan, teknologi, dan jebakan kesombongan yang sangat relevan dengan dunia kita hari ini.

Pernahkah kita merasa bahwa semakin sukses seseorang atau sebuah perusahaan, mereka justru semakin rentan kehilangan jati diri? Di dunia yang memuja hustle culture dan pencapaian materi, kita sering lupa bahwa "puncak" adalah tempat yang paling berangin dan licin.

Surah Saba’ bukan sekadar cerita lama tentang padang pasir, melainkan sebuah manual kepemimpinan tentang bagaimana mengelola kekuatan tanpa kehilangan jiwa.

1. Teknologi Bukanlah "Tuhan" Baru

Dalam narasi Surah Saba’ (ayat 12-13), Nabi Sulaiman AS digambarkan sebagai pemimpin dengan akses teknologi yang melampaui zamannya. Beliau memiliki kendali atas angin untuk transportasi kilat dan industri pengolahan tembaga yang canggih. Namun, Sulaiman tidak pernah memuja teknologinya. Baginya, infrastruktur megah dari gedung tinggi hingga kolam raksasa hanyalah instrumen untuk melayani tujuan yang lebih besar.

2. Paradigma I’malu Syukra: Kerja Adalah Bentuk Syukur Tertinggi

Inilah poin paling tajam yang sering kita lewatkan. Dalam ayat 13, muncul instruksi provokatif: “Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur.” Di sini, Al-Qur'an melakukan dekonstruksi total terhadap konsep syukur.

Bagi Sulaiman, syukur bukanlah "ritual lisan" yang dilakukan di akhir pekan setelah target tercapai. Syukur adalah bahan bakar dalam proses bekerja itu sendiri. 

Bayangkan seorang profesional yang bekerja dengan standar akurasi tertinggi bukan karena takut pada KPI atau atasan, melainkan karena ia memandang setiap detak kerjanya sebagai bentuk apresiasi kepada Sang Pemberi Bakat. Mereka tidak bekerja untuk mengejar validasi; mereka bekerja untuk menghormati potensi yang dititipkan. Inilah profesionalisme spiritual: bekerja dengan integritas karena merasa sedang "merawat titipan", bukan sekadar "mencari makan".

3. Tragedi Kaum Saba’: Jebakan Hubris dan Zona Nyaman

Kontras dengan Sulaiman, Kaum Saba’ adalah potret peradaban yang hancur karena hubris (keangkuhan). Mereka memiliki Bendungan Ma’rib yang jenius, namun kesuksesan membuat mereka terlena. Mereka menganggap kemakmuran adalah hak permanen dan mulai abai pada etika serta pemeliharaan sistem. Akhirnya? Bendungan itu jebol, dan kejayaan mereka menjadi dongeng kepedihan dalam semalam.

Analisis Relevansi: Pelajaran untuk Kita Hari Ini

Mengapa kisah dari Surah ke-34 ini menjadi alarm bagi kita yang hidup di era post-truth dan kapitalisme digital?

 * Melawan Hustle Culture yang Toksik: Konsep “I’malu Syukra” adalah obat bagi generasi yang lelah karena hanya mengejar angka. Jika kerja dianggap sebagai syukur, kita akan menemukan makna di setiap prosesnya, bukan hanya stres mengejar hasil akhir.

 * Etika di Atas Inovasi: Kasus Sulaiman mengingatkan bahwa di era AI dan otomatisasi, pemimpin harus memastikan teknologi digunakan untuk membangun kemanusiaan, bukan mengeksploitasinya.

 * Peringatan Too Big to Fail: Sejarah Kaum Saba’ adalah cermin bagi startup unicorn atau korporasi raksasa yang tumbang karena sombong dan abai terhadap nilai-nilai dasar.

 * Keberlanjutan Ekologi: Kemakmuran tanpa rasa syukur (kesadaran akan batas alam) hanya akan memicu bencana lingkungan persis seperti jebolnya bendungan Kaum Saba’.

Apakah "Tongkat" Kita Sedang Dimakan Rayap?

Surah Saba’ diakhiri dengan metafora yang menggetarkan: Sulaiman wafat dalam keadaan berdiri bersandar pada tongkatnya, dan tak ada yang tahu ia telah tiada sampai rayap memakan tongkat tersebut.

Ini adalah pesan bagi kita semua: Kekuasaan, jabatan, dan kekayaan hanyalah "tongkat". Jika fondasi spiritual dan rasa syukur kita keropos, maka kemegahan yang kita tunjukkan ke dunia luar hanyalah kepalsuan yang menunggu waktu untuk runtuh.

Jadi, tanyakan pada diri sendiri: Apakah kesuksesan kita hari ini adalah sebuah "syukur yang bekerja", atau justru awal dari keruntuhan yang tidak kita sadari?

Minggu, 22 Februari 2026

Bengkel Akhlak: Bahtera Itu Dibangun dengan Sabar, Bukan Sekadar Kayu

 

Terus melangkah dalam kebaikan, apapun yang terjadi.

Ada satu jenis lelah yang tidak terlihat.

Lelah karena harus tetap tersenyum, padahal hati sedang runtuh. Lelah karena harus tetap berjalan, padahal arah terasa kabur. Lelah karena harus tetap bertahan, padahal tidak ada yang benar-benar memahami apa yang sedang kamu perjuangkan.

Kamu pernah sampai di titik itu?

Titik di mana kamu ingin berhenti, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Titik di mana kamu tetap hidup seperti biasa, tapi ada bagian dari dirimu yang terasa kosong.

Ramadhan datang setiap tahun, bukan sekadar membawa kewajiban. Ia membawa kurikulum. Ia datang untuk membentuk jiwa. Untuk mengajarkan sesuatu yang tidak diajarkan dunia: bagaimana bertahan, bagaimana percaya, dan bagaimana membangun sesuatu yang akan menyelamatkan kita, bahkan setelah hidup ini berakhir.

Dan jika kita ingin memahami kurikulum itu, kita perlu melihat satu kisah. Kisah seseorang yang membangun bahtera, bukan hanya dengan kayu, tapi dengan kesabaran yang bertahan selama 950 tahun.

Dia adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam.

950 Tahun: Ketika Waktu Tidak Mengubah Keteguhan

Ada satu ayat dalam Al-Qur'an yang terasa sangat sunyi ketika kita benar-benar memahaminya:

"Maka dia tinggal di tengah-tengah mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun." (QS. Al-Ankabut: 14)

Sungguh indah diksi di dalam Al-Qur'an, mengapa Allah mengatakan di dalam ayat tersebut seribu tahun bukan dengan 950 tahun saja? Jawabannya adalah karena Allah mau menunjukkan kepada kita betapa lamanya perjuangan nabi Nuh yang sangat dahsyat dalam mengajak manusia kembali ke jalan Allah.

Sedangkan untuk bulan Ramadhan Allah menggunakan diksi "beberapa hari saja" yang mengisyaratkan bahwa kita tu harus tahan diri dulu untuk bermaksiat, sebentar saja (kata Allah).

Kembali ke kisah Nabi Nuh. Coba bayangkan itu dalam hidup manusia.

Jika satu tahun saja bisa terasa sangat panjang ketika kamu sedang terluka, Nabi Nuh menjalaninya selama 950 tahun. Jika satu bulan saja terasa berat ketika kamu sedang bertahan, Nabi Nuh menjalaninya selama ribuan bulan.

Beliau melihat generasi demi generasi datang dan pergi. Beliau terus berbicara kepada hati yang sama-sama kerasnya. Beliau terus berharap, meski harapan itu berkali-kali tidak disambut.

Allah mengabadikan kata-katanya:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam. Tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari dariku." (QS. Nuh: 5–6)

Beliau tidak berhenti. Bukan karena beliau tidak lelah. Tapi karena beliau tahu, kebenaran tidak kehilangan nilainya hanya karena manusia menolaknya.

Konsistensi semangat mengerjakan kebaikan dan semangat meninggalkan keburukan inilah yang mendorong Nabi Nuh untuk terus melangkah. Bahkan sampai usia tua sehingga Nabi Nuh dijuluki "Syekhul Ambiya".

Dan di sinilah Ramadhan mulai mengajarkan pelajaran yang sama.

Puasa: Belajar Bertahan, Bahkan Ketika Tidak Nyaman

Puasa tidak mengubah dunia di sekitarmu. Dunia tetap sama. Masalah tetap ada. Luka tetap terasa. Tapi puasa mengubah dirimu.

Puasa mengajarkanmu untuk tetap bertahan, bahkan ketika tubuhmu lemah. Ia mengajarkanmu untuk tetap taat, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Puasa adalah latihan sunyi. Tidak ada tepuk tangan untuk itu. Tidak ada yang tahu seberapa kuat kamu menahan dirimu, kecuali Allah.

Dan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa puasa akan memberi syafaat bagi orang yang menjalaninya di hari kiamat. Bayangkan itu.

Puasa membentuk pribadi menjadi orang yang bertakwa. Benefit menjadi orang bertakwa itu banyak banget, diantaranya: dijanjikan surga, diberikan jalan keluar dari setiap permasalahan, diberikan rezeki dari arah yang tak diduga dan jelas rezeki bukan hanya soal uang, tapi juga kesehatan, keimanan, kemudahan dan lain sebagainya.

Rasa lapar yang kamu tahan hari ini, akan berbicara untukmu nanti.

Seperti setiap hari yang dilalui Nabi Nuh selama 950 tahun. Setiap hari itu mungkin terasa kecil saat dijalani. Tapi pada akhirnya, semua itu membentuk bahtera keselamatan.

Al-Qur’an: Cahaya di Tengah Kesunyian

Nabi Nuh tidak berjalan tanpa arah. Beliau berjalan dengan wahyu. Dengan petunjuk dari Allah. Begitu juga dengan kita.

Hidup bisa terasa gelap. Kita tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan. Kita tidak selalu tahu bagaimana harus tetap kuat. Di sinilah Al-Qur’an menjadi cahaya.

Bukan hanya untuk dibaca. Tapi untuk menemani. Untuk menguatkan. Untuk mengingatkan bahwa kita tidak sendirian. Dan Al-Qur'an membentuk pribadi kita menjadi orang yang selalu bersyukur.

Dan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Al-Qur’an juga akan memberi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat.

Ayat-ayat yang kamu baca dalam diam, tidak hilang. Mereka tinggal. Mereka menunggu. Dan suatu hari, mereka akan membelamu.

Seperti bahtera yang dulu dibangun dalam kesunyian.

Do'a: Tempat Terakhir untuk Jatuh Tanpa Hancur

Ada momen ketika Nabi Nuh tidak lagi berbicara kepada manusia.

Beliau berbicara kepada Allah.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah aku." (QS. Al-Qamar: 10)

Itu bukan do'a yang panjang. Tapi itu adalah do'a yang jujur.

Do'a adalah tempat di mana kamu tidak perlu berpura-pura kuat. Tempat di mana kamu boleh mengakui bahwa kamu lelah. Tempat di mana kamu boleh berharap, bahkan ketika semuanya terasa mustahil.

Ramadhan mengembalikan kita ke tempat itu. Tempat di mana hubungan antara hamba dan Allah menjadi nyata.

Ramadhan: Waktu untuk Membangun Bahtera Itu

Bahtera Nabi Nuh tidak dibangun dalam sehari. Ia dibangun dalam waktu yang panjang. Dengan kesabaran yang tidak terlihat. Dengan keyakinan yang tidak dipahami semua orang.

Begitu juga dengan kita. Setiap puasa adalah satu bagian dari bahtera itu.

Setiap ayat yang kamu baca adalah satu bagian dari bahtera itu.

Setiap do'a yang kamu panjatkan adalah satu bagian dari bahtera itu.

Mungkin kamu tidak melihat hasilnya sekarang. Tapi Nabi Nuh juga tidak melihat banjir itu ketika beliau mulai membangun bahtera. Beliau hanya percaya. Dan itu cukup.

Suatu Hari, Kamu Akan Mengerti

Suatu hari nanti, ketika hidup ini selesai, kamu akan melihat apa yang benar-benar menyelamatkanmu.

Bukan hal-hal yang dulu kamu kejar. Tapi hal-hal yang dulu kamu pertahankan.

Puasa yang pernah terasa berat.

Al-Qur’an yang pernah kamu baca dalam diam.

Do'a yang pernah kamu bisikkan dengan air mata.

Semua itu akan datang.

Semua itu akan menjadi syafa'at.

Dan kamu akan menyadari sesuatu yang selama ini tidak kamu lihat. Bahwa selama ini, kamu tidak hanya bertahan. Kamu sedang membangun bahtera.

Perlahan.

Diam-diam.

Dengan sabar.

Dan ketika waktunya tiba, bahtera itu tidak hanya menyelamatkannya. Ia membuktikan bahwa tidak ada kesabaran yang sia-sia di hadapan Allah.

Jadi, jika Ramadhan ini terasa berat bagimu, jangan berhenti. Karena mungkin, inilah saatnya kamu melanjutkan pembangunan bahteramu. Yang suatu hari nanti, akan menyelamatkanmu.

Puasa dan Al-Qur'an adalah 2 syafaat yang kita dapatkan sekaligus dalam bulan yang mulia ini. Maka seharusnya kita manfaatkan dengan maksimal dalam waktu yang sebentar ini untuk membentuk pribadi takwa, dan berkelanjutan hingga berjumpa lagi dengan Ramadhan selanjutnya. Inilah ciri-ciri orang yang disebut dengan "Rosyada".

Kamis, 07 November 2024

Maryam : Sosok suci dan dilebihkan atas seluruh perempuan

 


"Dan, (ingatlah) ketika para malaikat berkata, "Wahai Maryam! Sesungguhnya, Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu)."

QS. Ali 'Imran : 42

Maryam dilahirkan di kota Nasirah, Nazaret, enam belas tahun sebelum kelahiran Isa al-Masih. Ia berasal dari keluarga orang saleh pilihan Allah SWT, yaitu keluarga Imran. Maryam terkenal akan kepasrahan, ketaatan, dan kesalihahannya. Ia bukan hanya cantik batinnya, melainkan juga cantik secara fisik. 

Pada QS. Ali 'Imran : 35-37 dijelaskan bagaimana sistem parentingnya sang ibunda, Hanna terhadap Maryam. Pertama, sang ibunda berazam ketika anaknya lahir menjadi anak yang berkontribusi membela agama Allah SWT. Saat dalam kandungan, Bunda Hanna berharap kelak anak yang lahir ialah laki-laki. Karena beliau bernadzar akan menyerahkan seorang putra yang lebih layak untuk menjadi pelayan dan pengurus Baitul Maqdis. Sesuai kebiasaan pada masa itu, bahwa hanya laki-laki yang menjadi pengurus rumah suci, Baitul Maqdis. Ternyata yang lahir yaitu anak perempuan. Bayangkan gimana galaunya Hanna. Beliau curhat ke Allah, yaAllah... Nadzar telah dibulatkan bahwa setelah lahir, sang anak akan diantar ke rumah suci, tetapi ternyata yang lahir adalah anak perempuan. Apakah Allah SWT mau menerimanya? Dengan tulus ia mengungkapkan isi hatinya, layaknya seorang hamba yang memohon kepada Rabb-Nya. Begitulah, keadaan hamba-hamba pilihan ketika berinteraksi dengan Tuhannya, berdialog secara sederhana dan terbuka, tanpa ada rasa sungkan dan seolah tak berjarak. Beliau merasa bahwa lawan bicaranya adalah Dzat Yang Maha Penyantun, Maha Penyayang, Maha Pengabul Do'a, dan sangat dekat lebih dekat dari urat nadi kepada hamba-Nya. Dan tak lupa, Hanna selalu mendo'akan untuk kebaikan-kebaikan anaknya setiap saat.

Kedua, Maryam dididik oleh guru terbaik, Zakaria a.s.. Zakaria a.s. bukanlah orang asing bagi Maryam. Istri Zakaria a.s. memiliki hubungan kakak beradik dengan ibunda Maryam. Jadi, Zakaria a.s. masih tergolong pamannya Maryam. Berdasarkan surah Maryam ayat 28, ada hal penting dalam pendidikan anak yang patut kita garis bawahi, yakni orang tua yang saleh. Maryam merupakan keturunan dari ayah dan ibu yang bertakwa sehingga ia tumbuh besar dalam darah keturunan yang baik. Sang pengasuh adalah Zakaria a.s., sang paman sekaligus seorang nabi yang saleh, sehingga walaupun anak tidak bisa berada dalam pengasuhan dan pendidikan orang tuanya, pengasuh (pendidik) yang bertakwa dan berjiwa saleh akan turut mewarnai kesalehan jiwa sang anak - kebaikan akan menularkan kebaikan pula.

Ketiga, Memberi makanan terbaik (Halal dan Thayyib). Maryam dibesarkan dalam keadaan yang berkecukupan dan penuh berkah. Allah SWT telah menyiapkan rezeki yang melimpah untuknya hingga ia tumbuh sempurna dan menjelma menjadi perempuan dewasa.

Beragam keistimewaan dan kelebihan yang dimiliki Maryam dibandingkan dengan seluruh perempuan di muka bumi ini.

1. Nama Maryam diabadikan dalam Al-Qur'an, yaitu surah Maryam

2. Maryam adalah perempuan ahli ibadah. Ia ahli ibadah yang mewakafkan hidupnya untuk menjadi pelayan Allah SWT.

3. Maryam orang yang shiddiqah. Maryam tetap mempertahankan keimanannya walaupun ia harus menerima cacian dan makian dari kaumnya.

4. Maryam adalah perempuan yang memelihara kehormatannya. Maryam sangat menjaga kesucian dirinya. Ia tidak sembarangan berdekatan dengan laki-laki yang bukan mahramnya.

5. Maryam tidak menikah.

6. Maryam bukanlah seorang nabi.

7. Maryam adalah perempuan yang sempurna. Dalam hadist riwayat al-Bukhari disebutkan bahwa lelaki yang sempurna ada banyak, tetapi tidak ada perempuan yang sempurna, kecuali Maryam, Asiyah (istri Fir'aun)......

Sosok perempuan suci, mulia, dan teramat istimewa. Tidak ada perempuan mana pun yang mendapatkan anugerah seperti Maryam, mengandung dan melahirkan seorang nabi agung tanpa perantara laki-laki (suami). Maryam perawan suci yang seluruh hidupnya senantiasa terjaga dari noda dan dosa. Dengan keteguhan iman dan keyakinannya kepada Allah SWT, ia mampu menempuh segala ujian yang luar biasa berat, yang sulit ditanggung oleh perempuan lain, selain Maryam. 

Siapa sangka dibalik kelemahlembutan seorang perempuan, Maryam mampu membuktikan ketangguhan dan keberaniannya dalam menghadapi kemarahan dan kecamuk fitnah yang dilancarkan kaumnya.

Pesanku untuk aku dan kamu :

Semangat berproses menjadi lebih baik dari diri yang kemarin yaa, semangat menjadi lebih baik 1% dibandingkan hari kemarin.

Keep fighting

Selasa, 05 November 2024

my hero

 

Barakallah fii umrik my hero💚

Ketika semua orang merayakan, aku hanya ingin menulis tentang mu, apak.

Kita bukan keluarga yang seperti Raffi Ahmad (sultan), tapi ketika aku membutuhkan sesuatu, engkau selalu mengusahakannya. Engkau adalah ayah sekaligus sahabatku, ketika aku terluka engkau orang terdepan yang berusaha untuk menyembuhkan, engkau tidak pernah menaikkan nada suara ketika aku sedang berbuat salah, tetapi menasihati dengan lemah lembut. Orang-orang pun bilang, "anak ni kemana bapaknya, kesitu juga dia" karena emang apapun urusannya selalu dengan apak mwehehe. Sampe ke fotocopy yang jaraknya kurang lebih 200 meter aja minta dikawanin, hehe maklumlah yaa..

Hemm, kalo dingat-ingat, tiada apapun yang bisa menjabarkan kebaikan-kebaikan dan keunikan ketika bersama apak, kalo dijabarkan bisa sampe tahun depan nih baru selesai nulisnya, saking banyaknya. Tapi, tulisan singkat ini sudah mewakilkan dari rangkaian seluruh kisahku bersama apak.

Ketika usiamu sekarang seusia Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam ketika wafat, aku khawatir... Banyak kekhawatiran yang menghantui ku. 

Tapi aku mohon,,,,,

Tolong untuk hidup lebih lama, karena aku ingin engkau menyaksikan di saat aku wisuda, ketika aku menjadi orang yang sukses, ketika aku duduk di pelaminan, dan semoga cita-cita atau impian aku yang satu itu segera terwujud sebelum diantara kita semua kembali kepada-Nya.

Sebuah penghargaan dan sebuah anugerah ketika impian yang satu itu terwujud. Tidak muluk-muluk aku meminta kepada-Nya, hanya ingin do'a ku yang satu itu segera terkabul walaupun hanya terulang satu kali seumur hidup.

Semoga segera terwujud yaah...

Aamiin...

Selasa, 09 Juli 2024

Sejarah akan terulang


ilustrasi perang di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam

"Sejarah akan selalu terulang hanya dengan wujud yang berbeda."

Kawan-kawan percaya kalau kita sekarang sedang berperang? apakah perang hanya dengan senjata? Tidak kawan-kawan. Hari ini, saat ini, kita sedang perang pemikiran, perang melawan hawa nafsu diri sendiri.

Kali ini kita limitasi pembahasan hanya pada perang pemikiran atau sering dikenal dengan sebutan Ghazwul fikri. Sebagaimana pepatah menyatakan bahwa "bila ingin menghancurkan islam, hancurkan generasi mudanya, bila ingin menghancurkan generasi muda, hancurkan akhlaknya". Faktanya, kehancuran akhlak merupakan salah satu tujuan dari Ghazwul fikri.

Ghazwul fikri sering juga disebut dengan perang intelektual, perang kecerdasan, perang otak, perang non konvensional atau perang tak terlihat (proxy war). Melainkan pemikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, propaganda, agitasi, dialog, dan perdebatan yang bersifat defensif maupun opensif.

Secara terminologis Ghazwul fikri bermakna penyerangan dengan berbagai cara terhadap umat Islam guna mengeluarkan mereka dari agamanya atau minimal menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai ajaran ilahiah. Fenomena yang kerap dijumpai saat ini, banyak anak muda yang mulai tergerus akhlaknya akibat doktrin-doktrin yang bersumber dari sosial media. Banyak yang menelan mentah-mentah informasi dari video yang hanya berdurasi 30 detik tanpa ada diskusi ataupun bertanya kepada orang yang dianggap ahli ataupun paham terkait hal yang disampaikan.

Sehingga antar sesama sering terjadi gonjang-ganjing yang tak berkesudahan yang mengakibatkan terpecah belahnya satu kesatuan yang utuh. Ada berbagai ideologi yang secara tersurat dan tersirat berpotensi menjauhkan umat Islam dari agamanya, antara lain: Sekularisme (memisahkan agama dengan kehidupan dan segala aspek-aspeknya), pluralisme agama (menyakini bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama), liberalisme (memahami nash-nash agama yaitu al-Qur’an dan Hadits menggunakan akal pikiran yang bebas atau hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata), dan lain sebagainya.

Saat ini Ghazwul fikri sudah banyak masuk dalam berbagai saluran yang sering dinikmati masyarakat Islam setiap saat, baik melalui media cetak, elektronik maupun media-media lainnya dalam wujud fashion, fun, food, foundation, song, sinema, school, sex, dan sport. Untuk itu, perlu pemahaman yang cukup dan intens agar dapat memfilter itu semua sehingga tidak menjauhkan dari keyakinan agama.

Ini menjadi pr kita bersama kawan-kawan, tiada lain tiada bukan kitalah yang bisa membentengi diri dengan ilmu, untuk menuju anak muda yang berilmu butuh sarana-sarana yang memadai seperti guru untuk tempat bertanya, lingkaran diskusi-diskusi, buku-buku yang mendukung, dan lain sebagainya.

Perlu digarisbawahi bahwa generasi sekarang sangat dekat dengan media digital, dimana informasi sangat cepat seperti kilat sampai kepada konsumennya. Harus pandai dalam memilah informasi yang didapatkan.

Nasihat Imam Syafi'i : "jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu"



 

Jumat, 01 Desember 2023

Surat kecil untuk kesayangan

 


"Surat kecil untuk kesayanganku"


Dahulu, ketika masih jadi "siswa", nikmat banget rasanya, suka duka nya dirasakan bersama keluarga. Sedih, tangis, haru, marah, melow, dan lain sebagainya. Ah, aku terlalu lemah untuk ini. 

Namun percayalah, aku merindukan itu semua saat ini. Walaupun setiap hari kita bercengkrama via telpon, ah tetap saja rindu ku belum terpenuhi. Yang awalnya nekad banget buat kuliah dan ga direstuin buat kuliah karna engkau (orangtua) berkata "terlalu jauh nak, nanti kami menjengukmu gimana?". Tapi, dengan kesungguhan dan tekadku, engkaupun merestui. Ya walaupun awal-awalnya ayah ga nafsu makan selama 3 hari karna anak gadis satu-satunya sudah pergi meninggalkan rumah mungil itu untuk berangkat mencari pengalaman di bangku kuliah.

Mohon maaf bila keberangkatan ku membuat engkau tersiksa karna rindu. Jujur akupun lebih rindu. 

Mohon maaf bila kuliahku, menjadi bebanmu amak, apak.

Tapi percayalah, anak kecilmu ini, gadis satu-satunya ini, akan membuat kalian nangis haru ketika di hari keberhasilanku nanti.

Aku yakin, setiap langkahku, Do'amu selalu menyertai.

I love you more amak and apak


Semangat anak rantau, aku yakin kita semua sukses dan berhasil membuat orangtua kita bangga dan nangis haru suatu hari nanti atas izin Allah SWT.


noted :

engkau : orangtua

Senin, 01 Mei 2023

Menyemai Benih Keberhasilan #Part 2

 


"Belajar lebih banyak, silaturahmi lebih banyak, bantu orang lain lebih banyak, dan menanamlah mulai dari sekarang!!!"


Menanam bukan hanya perihal bertani saja, tapi investasi untuk masa depan, untuk memanen masa depan yang gemilang kita pun perlu menanam aset-aset pendukung mulai sejak dini.

Menanam adalah salah satu karakter yang membedakan mereka yang bermental pengusaha atay bermental seorang buruh. Meraka yang sukses, baik yang murni pengusaha atau seorang karyawan dalam sebuah perusahaan adalah mereka yang bersedia "menanam". Apa maksudnya?

Menanam, sama seperti ketika kita keluar ke kebun dan menanam pohon mangga misalnya. Mula-mula menanamnya dari bijinya, kemudian hari demi hari rajin untuk terus menyiram dan merawatnya, melakukan penyiangan ketika gulma sudah mengganggu pertumbuhan tanaman, dan akhirnya pohon itu besar dan akan memberikan buahnya untuk kita. Dan itu semua butuh waktu dan proses yang panjang. 

Hari ini kita menanam, tidak langsung besok pohon mangga nya akan berbuah. Ketika kita merawatnya dengan penuh sukacita, dengan sangat baik, pohon itu akan memberikan imbalan yang setimpal dengan apa yang kita lakukan padanya, buah yang besar, manis dan lebat misalnya.

Sangat banyak pelajaran yang bisa diambil dibalik peristiwa menanam. Dan memang benar, mereka yang begitu sukses bersedia belajar banyak, belajar diatas manusia rata-rata, yang misalnya manusia rata-rata membaca buku hanya 1 untuk satu bulan, tapi dia lebih dari itu, 3 buku misalnya setiap per bulannya. Jelas karena dia tahu di masa depan ilmunya pasti bermanfaat..

Mereka bersedia bersilaturahmi lebih banyak karena link atau jaringan itu sangat penting dalam mencapai cita-citanya. Bahkan Rasulullah sendiri berkata bahwa "Barangsiapa ingin lapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahmi" (HR. Bukhari No. 5986). Bekerja sama dengan orang penting atau kenalan mereka karena tahu akan mendapatkan lebih banyak manfaatnya di masa mendatang. Mereka sedang menanam!!

Semangat berinvestasi dan menanam untuk masa mendatang!


Selasa, 21 Februari 2023

Esensi Pendidikan

 

"Sebuah peradaban bukan mati dibunuh, melainkan mati karena bunuh diri"

~Toynbee


Pendidikan adalah penanaman nilai, moral, dan spiritual karena kualitas manusia dilihat dari ketiga hal tersebut, bukan semata tentang gelar akademis yang melangit, karir yg melejit, dan segenap hal yang bersifat kebendaan. Kualitas peradaban dilihat dari kualitas manusianya, kehancuran peradaban dimulai dari kehancuran manusianya.

Kita berbicara tentang tanah air, Indonesia. Hingga saat ini kualitas SDM di Indonesia masih tergolong rendah. Data BPS menunjukkan bahwa tenaga kerja di Indonesia masih didominasi oleh tamatan SD ke bawah, yaitu sebesar 39,10% (februari 2022).

Tenaga kerja dengan pendidikan terakhir SMP sebesar 18,23%, SMA 18,23%, dan SMK 11,95%. Sementara tenaga kerja dengan pendidikan akhir diploma I/II/III dan universitas hanya sebesar 12,60% (BPS 2022). Padahal salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas SDM adalah pendidikan dan pelatihan yang bisa beradaptasi dengan perubahan sosial masyarakat.

Di sisi lain, data terkait dengan pengangguran berdasarkan pendidikan terakhir didominasi oleh SMK 10,38% (Februari 2022). Pengangguran yang menamatkan pendidikan SD ke bawah sebesar 3,09%, SMP sebesar 5,61%, SMA sebesar 8,35%. Sedangkan pengangguran dengan pendidikan terakhir diploma sebesar 6,09% dan universitas sebesar 6,17% (BPS 2022).

Berangkat dari data di atas, ada kisah menarik. Suatu ketika, seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Indonesia bertandang ke berbagai negara demi mencari referensi yang pas untuk pendidikan di Indonesia. Rektor itu mendatangi seorang ulama di Timur Tengah. Ia bertanya harus dari mana memulai membangun pendidikan di negerinya. Ia benar-benar bingung. Ternyata berganti menteri dan basis kurikulum tak berpengaruh apa-apa, selain menambah kerumitan masalah.

Sang syekh bertanya, "Di Indonesia, bagaimana sistem pendidikan saat ini, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi?"

Rektor itu menjawab, "Paling rendah mulai dari SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun, S1 4 tahun, S2 sekitar 1 1/2 - 2 tahun. Setalah itu S3 untuk yang paling tinggi."

"Jadi, untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun, ya?" tanya syekh.

"Begitulah, syekh," jawab rektor.

"Lantas, bagaimana jika hanya lulus SD saja, pekerjaan apa yang bisa didapatkan oleh seorang lulusan SD?"Syekh kembali bertanya.

Rektor bingung, seorang anak lulusan SD bisa bekerja apa? "Paling jadi buruh lepas, penyapu jalan, tukang kebun, dan sejenisnya, syekh," jawab rektor.

"Jika lulus SMP bagaimana?"

"Untuk lulusan SMP mungkin jadi office boy atau cleaning service, syekh,"

"Kalau SMA bagaimana?"

"Kalau lulusan SMA masih agak mending. Di negara kami, lulusan SMA bisa menjadi operator di perusahaan-perusahaan," jelas sang rektor.

"Kalau lulusan D3, S1, bagaimana?" tanya syekh.

"Jika lulus D3 atau S1, bisa menjadi staf kantor. Kalau S2, bisa langsung menjadi manajer sebuah perusahaan," ungkap rektor.

"Jadi, untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan, berarti harus menghabiskan waktu hingga 15 sampai 16 tahun lamanya?" tanya syekh keheranan.

"Begitulah, syekh," jawab rektor sambil tertunduk lesu.

Sang syekh tersebut lalu mencoba membuat perbandingan, "Bagaimana jika seorang anak menghabiskan waktu 6 tahunnya untuk menghafalkan Al-Qur'an, apakah cukup waktu selama itu untuk menghafal seluruh juz dalam Al-Qur'an?" tanya syekh.

"Tentu, in syaa Allah sangat cukup syekh,"

"Adakah di negerimu seorang penghafal Al-Qur'an yang mejadi penyapu jalan, tukang kebun, dan sejenisnya?"

"Tidak ada syekh," jawab rektor seraya mengerti sedikit demi sedikit arah pembicaraan syekh tersebut.

"Kemudian, anak tersebut melanjutkan 3 tahun untuk mengkaji tafsir dan 3 tahunnya lagi untuk mengkaji hadist. Adakah, di negerimu penghafal Al-Qur'an yang paham tafsir dan hadist menjadi cleaning service, office boy, atau operator di pabrik seperti lulusan SMA tersebut?"

"Aku yakin tidak ada, syekh," jawab sang rektor dengan mantap.

Setelah mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, akhirnya, sang ulama menyampaikan pesannya kepada rektor tersebut. "Jika kamu ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, dan bermanfaat bagi bangsa dan terutama agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti, kamu harus mengubah sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada dunia menjadi pendidikan yang berorientasi akhirat. Karena jika kita fokus pada akhirat, in syaa Allah dunia akan didapat pula. Namun, jika sistem pendidikan hanya berorientasi pada dunia, dunia dan akhirat belum tentu dapat."

Jika diisi ilmu fisika, ia akan menjadikan fisika sebagai sarana untuk lebih mengenal keagungan Allah SWT. Seperti orang yang bertauhid, ia tidak akan serta-merta mengatakan bahwa rotasi merupakan gerakan bumi berputar pada porosnya saja, tetapi ia akan meyakini dan mengatakan bahwa rotasi merupakan gerakan bumi pada porosnya yang digerakkan Allah Sang Maha Pencipta segala sesuatu. Tanpa Allah SWT, gerakan putaran rotasi tidak akan pernah ada. Inilah tugas dan amanah para orang tua untuk memberikan pendidikan ilahiyah kepada anak-anaknya. Bukankah amanah itu akan dimintai pertanggungjawabannya?Jadi, masihkah ada rasa kurang percaya diri menjadi seorang "Arsitektur" peradaban?

Selasa, 14 Februari 2023

Menyemai Benih Keberhasilan #Part 1

 


"Bukan hanya ditujukan untuk pecundang yang ingin jadi pemenang, tapi juga kepada pemenang yang ingin meraih kemenangan yang lebih besar"

~Bong Chandra

~Belajar dari pohon tomat

Pernah melihat pohon tomat yang berbuah sekitar 12.000 buah tomat di atas batangnya?jika belum, menurut temen-temen apakah hal ini mungkin terjadi? let's go kita simak ceritanya.

Pohon tomat seperti ini benar-benar ada dan pernah di pamerkan dalam pameran sains dan teknologi Tsukuba Jepang tahun 1985. Menurut temen-temen apa yang telah dilakukan kepada pohon tomat ini?Jika berpikir seperti kebanyakan orang lainnya, mungkin akan menduga bahwa tomat ini adalah hasil rekayasa genetik. Ternyata, sama sekali bukan gaess. Tanaman tomat itu dihasilkan dari biji tomat biasa. Iya bener, dari biji tomat biasa. Biji yang diperoleh dari tanaman tomat pada umumnya yang hanya menghasilkan 20-30 buah saja per batangnya. Lalu apa sebenarnya rahasianya?

Ternyata tanaman tomat ini dikembangkan dengan teknik hidroponik gaess. Lalu apa yang membedakannya? yang membedakannya adalah "Lingkungannya", tanaman ini tumbuh di air bukan di tanah.

Semua orang mengira bahwa tanah sangatlah penting untuk pertumbuhan tanaman. Tapi, ada seorang ahli agronomi ternama di Jepang, Shigeo Nozawa melakukan penelitian dan menunjukkan fakta kebalikannya. Bahwa tanaman justru terhalang oleh tanah ketika tanaman itu ditumbuhkan di dalamnya. Malah ketika dia menumbuhkan tanaman tomat itu di air, hasilnya luar biasa. Dengan serta merta efektivitas fotosintesis meningkat. Hasilnya adalah tanaman tomat menghasilkan buah 1.000 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan tomat yang berada  di lingkungan konvesional. Sungguh mengesankan. Bukti betapa sungguh luar biasanya ciptaan Allah.

Jika penelitian Nozawa telah membantu tanaman menyadari potensi mereka, bagaimana dengan manusia?Jika tumbuhan saja bisa seperti itu, maka manusia sangat bisa untuk jauh lebih daripada itu. Bukankah Allah telah mengatakan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna?

Untuk menjadi hebat, milikilah keberanian untuk mengubah lingkungan kita. Sungguh sangat tidak mudah memberikan keyakinan diri bahwa "AKU" bisa melakukannya ketika semua orang disekitarku terus saja mengatakan bahwa aku akan gagal.

Ada kata-kata menarik dari salah satu pembalap moto GP. Kurang lebih begini :

"Aku berharap aku tak akan menemukan batas kemampuanku sehingga aku selalu punya alasan untuk terus melakukan peningkatan"

~Marc Marquez

Rabu, 08 Februari 2023

Tauhid, Ekologi dan Lingkungan

 

Said Nursi

Sebelum kita ke tema kali ini, lucu ga sih kalo kita belajar tentang pemikiran seseorang tapi ga tau seseorang itu siapa?ya kan. Nah oleh karena itu, kita kenalan dulu ya sama "Pemikir" yang luar biasa keren ini.

Namanya Said Nursi yang lahir pada tahun 1290 H/1873 M di kampung yang bernama Nurs dekat Van Golu di daerah Bitlis, Turki. Keluarga Said Nursi ini sangat memperhatikan pendidikan terutama pendidikan agama, mereka sangat menjunjung tinggi syariat Islam sebagai landasan yang kuat. Terbukti kakak perempuannya, Alimah Hanim memiliki reputasi sebagai orang yang mempunyai pengetahuan luas dalam agama. Kakak laki-lakinya, Abdullah adalah seorang Hoca, yaitu guru pertama Said Nursi. Adik-adiknya, Muhammad menjadi guru di madrasah desa Arvas dan Abdul Majid yang terkenal dengan terjemahannya atas dua karya Said Nursi yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Turki.

Sejak kecil kehidupan Said Nursi memang sudah dekat dengan alam. Ia merupakan anak yang cerdas, selalu memperhatikan segala hal, dan menanyakan hal-hal yang mengganjal dalam dirinya. Di sekolah, said nursi mendapat bimbingan dari Syaikh Muhammad Jalali. Ia menunjukkan kesungguhannya dengan mempelajari dan membaca buku yang tebalnya sekitar dua ratus halaman lebih setiap harinya meskipun terkadang bahasanya sulit dimengerti. 

Kehebatan dan kecerdasan yang dimiliki Said Nursi telah menyebar di kota Siirt, membuat ulama di kawasan itu berkumpul dan mengundang Said Nursi untuk mengajaknya berdebat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Said Nursi menerima undangan tersebut dan ia berhasil menjawab segala pertanyaan yang diajukan kepadanya. Hal tersebut membuat orang-orang yang melihat kagum dan nama Said Nursi menjadi terkenal, sehingga ia dijuluki "Said-i Meshur" atau Said yang terkenal.  

Said Nursi mempunyai prinsip lebih baik mati daripada berhutang budi kepada seseorang. Alasan mengapa ia selalu menolak pemberian orang lain adalah: pertama, orang yang salah persepsi menuduh para ulama Muslim menggunakan pengetahuan sebagai alat untuk mendapatkan uang. Kedua, kita berkewajiban mengikuti nabi dalam mendakwahkan kebenaran. Para nabi hidup sama sekali tidak tergantung pada manusia. Ketiga, Muslim harus memberi dengan nama Allah dan menerima dengan nama Allah. Keempat, kepuasan hati, hemat, dan kepercayaan pada Allah adalah suatu harta yang tak terbatas yang tidak dapat ditukarkan dengan hal lain. Said Nursi mampu menghabiskan sisa hidupnya dengan mengikuti prinsip yang sama dan tergantung hanya kepada kemurahan Allah. Kelima, pengalaman-pengalaman dari beberapa tahun belakangan telah meyakinkan Said Nursi bahwa kesehatan dan kecenderungannya tidak memperbolehkannya menerima sesuatu dari manusia, khususnya dari golongan orang-orang kaya dan pejabat. Keenam, Alasan yang paling penting ialah Said Nursi lebih menyukai hidup dalam kemandirian dari orang adalah Ibnu al-Hajar, orang yang paling tinggi kepercayaan dirinya dalam mazhab `amal. 

Jauh sebelum dunia Barat mengenal isu-isu ekologis melalui buku Silent Spring karya Rachel Carson, yang terbit pada 27 September tahun 1962, dengan ketajaman visinya, Said Nursi telah menuliskan isu-isu ekologis yang sangat penting, dengan bercorak filosofis sekaligus sufistik. Tak hanya itu, Nursi melihat perang dunia I yang terjadi pada tanggal 28 Juli 1914 sampai dengan 11 November 1918 memiliki dampak buruk yang sangat signifikan terhadap kemanusiaan dan lingkungan hidup pada masa itu.

Perang ini memberi konsekuensi kemanusiaan yang sangat mendalam. Dari 60 juta tentara Eropa yang dimobilisasi mulai tahun 1914 sampai 1918, 8 juta di antaranya gugur, 7 juta cacat permanen, dan 15 juta luka parah. Jerman kehilangan 15,1% populasi pria aktifnya, Austria-Hongaria 17,1%, dan Prancis 10,5%. Sekitar 750.000 warga sipil Jerman tewas akibat kelaparan yang disebabkan oleh blokade Inggris selama perang. Pada akhir perang, kelaparan telah menewaskan sekitar 100.000 orang di Lebanon. Perkiraan terbaik untuk jumlah korban tewas akibat kelaparan Rusia 1921 adalah 5 juta sampai 10 juta orang. Pada tahun 1922, terdapat 4,5 juta sampai 7 juta anak tanpa rumah di Rusia akibat satu dasawarsa kehancuran sejak Perang Dunia I.

Selain sebagai bencana kemanusiaan, perang ini telah menjadi bencana ekologis atau bencana lingkungan hidup yang sangat parah. Dalam Perang Dunia I, dikenal istilah “bombturbation”, sebuah istilah untuk menggambarkan pencampuran tanah dengan bahan peledak. Penanaman bahan peledak sampai jauh di bawah permukaan tanah. Saat bom meledak, kesuburan tanah serta cadangan air tanah menjadi hancur dan tanah mengalami kesulitan untuk pemulihan alaminya. Dampaknya, banyak kawasan pertanian produktif dan kawasan hutan menjadi kawasan mati. Kerusakan tanah dan hutan diperparah karena dijadikan jaringan parit untuk perang. Setidaknya, 23.225,76 hektar kawasan hutan mengalami kerusakan yang sangat parah. Dengan demikian, perang terah merubah bentang alam secara drastis.

Dampak merusak lainnya terhadap lingkungan hidup adalah penggunaan gas beracun. Gas-gas yang berbahaya tersebar di seluruh parit untuk membunuh tentara. Contoh gas yang diterapkan selama Perang Dunia I adalah gas air mata (aerosol yang menyebabkan iritasi mata), gas mustard (gas beracun yang menyebabkan kulit melepuh dan perdarahan). Gas-gas tersebut menyebabkan total 100.000 kematian, Medan perang tercemar, dan sebagian besar gas menguap ke atmosfer.

Said Nursi memulai pandangannya tentang Qur’anic Environmentalism yang dimulai dari definisinya mengenai Al-Qur’an. Umumnya para ulama mendefinisikan Al-Qur’an dengan pandangan yang sangat umum, yaitu firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw., melalui perantara Malaikat Jibril. Berbeda dengan pandangan itu, Nursi menulis definisi Al-Qur’an sebagai berikut:

“Al-Qur’an adalah penjelas azali buku alam semesta sekaligus penafsir abadi terhadap lisan yang membaca ayat-ayat penciptaan. Ia adalah penjelasan terhadap buku alam semesta baik yang zahir maupun yang batin. Al-Qur’an adalah pengungkap perbendaharaan Nama-nama Ilahi yang tersembunyi baik yang berada di langit maupun di bumi. Ia adalah kunci penyingkap kebenaran yang tersembunyi di belakang setiap fenomena. Al-Qur’an adalah lisan dunia batin bagi dunia zahir. Ia adalah perbendaharaan nikmat abadi dari Tuhan Yang Maha Penyayang sekaligus tanda azali dari Dzat Yang Maha Suci. Al-Qur’an adalah matahari dan fondasi spiritual Islam. Ia adalah peta suci untuk kehidupan dunia dan akhirat....(The Words, hal. 376-378)”

Belajar dari Al-Qur’an, Said Nursi menekankan pentingnya semua spesies hewan. Bahkan Nursi menyebut hewan sebagai petugas Ilahi, bekerja sebagai manifestasi keberadaan Allah dan sebagai pengingat keagunganNya. Ia menulis: “Alam semesta ini adalah sebuah buku yang penuh dengan makna yang berasal dari Zat Yang Maha Tunggal, Maha Kekal. Semua makhluk yang berada di bumi sampai dengan langit merupakan kumpulan mu’jizat sekaligus surat resmi dari Allah. Semua makhluk di alam ini adalah tentara. Semua makhluk dari mulai mikroba, semut, burung elang, badak sampai dengan planet-planet adalah petugas Ilahi yang rajin.” (The Rays, hal. 20)

Selain menyebut nama hewan. Al-Qur’an juga menyebut entitas pohon. Menurut hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, di dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras Kata pohon diungkapkan dengan berbagai derivasinya disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 27 kali. sedangkan kata-kata taman atau kebun dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 146 kali. Walaupun Al-Qur’an tidak menyebutkan perintah menanam pohon secara eksplisit, namun pohon sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an karena pentingnya keberadaan mereka bagi kehidupan manusia. Sejumlah ayat menyebutkan katakata pohon, buah-buahan, kebun-kebun atau taman-taman secara eksplisit. Selain disebutkan untuk menunjukkan entitas nabati, kata pohon dengan berbagai derivasinya digunakan dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan sejumlah perumpamaan. Tujuan utama dari hal ini adalah untuk menjaga agar konsep tentang pohon agar senantiasa hidup dalam hati dan pikiran manusia.

Said Nursi sesungguhnya ingin mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara Al-Qur’an atau recited book (buku yang dibaca) dengan alam semesta atau observed book (buku yang diobservasi). Baginya, Al-Qur’an mendorong manusia untuk merenungkan tanda-tanda keberadaan Tuhan di alam raya yang tak terhitung jumlahnya.

Pesan-pesan ekologis Said Nursi sangat relevan dengan kondisi umat Islam, khususnya di Indonesia. Tak sedikit umat Islam yang mempelajari Islam, khsususnya Al-Qur’an, tapi terjebak dalam kubangan literalistik, kehilangan spirit untuk melakukan melakukan perubahan transformatif dalam merespon krisis Lingkungan hidup yang terjadi. Akhirnya, Al-Qur’an hanya menjadi dokumen yang dibaca dan dihafal berulang-ulang. Padahal, keadilan sosio-ekologis adalah salah satu pesan utama di dalam Al-Qur’an.

Umat Islam harus berkepentingan dengan isu krisis lingkungan hidup karena sejumlah alasan, yaitu: pertama, secara teologis, umat Islam diperintahkan untuk memakmurkan dan menjaga keseimbangan planet bumi. Bahkan al-Qur’an, dalam banyak ayat, dengan sangat tegas melarang berbuat kerusakan di atas muka bumi; kedua, secara historis, Nabi Muhammad dan juga para sahabat telah memberikan teladan mulia dalam menjaga alam, salah satunya dengan menetapkan kawasan Hima untuk daerah konservasi air; ketiga, secara ekologis, jika lingkungan rusak maka akan berdampak terhadap berbagai ibadah ritual dalam Islam. Contohnya, krisis air akibat rusaknya hutan akan berdampak terhadap kualitas ibadah shalat. Lebih jauh, umat Islam berkewajiban untuk mewujudkan peradaban ekologis yang mampu menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakat dunia; keempat, secara filosofis, krisis ekologis yang mendorong krisis iklim adalah manifetsasi dari krisis paradigma (fikrah) atau krisis spiritualitas yang melanda umat manusia saat ini, dimana alam dilihat secara instrumental dengan kalkulasi untung dan rugi semata. Padahal, al-Qur’an sebagaimana dinyatakan oleh Said Nursi, mengajarkan bahwa alam memiliki nilai spiritual pada dirinya karena bertasbih kepada Allah Swt.

Tidak mengherankan Nursi berstatemen bahwa “bencana terbesar umat Islam saat ini adalah keringnya jiwa, nihilnya spiritualitas yang diinjakkan oleh filsafat dan ilmu-ilmu modern. Bukti yang sangat jelas adalah kerusakan multidimensi perang dunia yang terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia. Lebih lanjut, Ilmu-ilmu alam yang lahir dan tumbuh dari rahim peradaban barat bagi Nursi membahayakan bagi umat Islam, karena menyebabkan kebodohan dan kerusakan. Sebagaimana telah dibuktikan oleh Said Nursi, krisis lingkungan hidup adalah persoalan bersama. Krisis ini akan tetap menjadi ancaman umat manusia ke depan, selama manusia tidak kembali kepada akar spiritualitasnya.

Senin, 09 Januari 2023

Hidup adalah Pilihan

 


"Kamu yang sekarang adalah hasil dari pilihan-pilihan kamu di masa lalu
Kamu di masa depan adalah hasil  dari pilihan-pilihan kamu pada masa sekarang"


Pernah ga sih terbesit dipikiran kamu, kenapa aku seperti ini? that's true, itu adalah hasil dari pilihan-pilihan kamu. Hidup adalah Pilihan, kelihatannya simple, tapi ternyata emang se penting itu untuk dikaji. Karena ini menyangkut akan jadi apa kamu nantinya?

Sejatinya, sebenarnya saat ini kita sedang menulis kisah hidup kita sendiri di sebuah buku yang berjudul nama kita sendiri dan saat ini pun kita sedang menulisnya, setiap hari, setiap waktu setiap lembar demi lembar. Anehnya banyak yang kita temukan saat ini mereka yang tidak menyesuaikan pilihan-pilihannya dengan yang dia inginkan. Misal, inginnya muda berfoya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Itukan keliru, ngawur kalo bahasa gaulnya, yang sebenarnya tidak akan terjadi karena hidup adalah pilihan.

Dengan memahami hal ini seharusnya jika seseorang ingin sukses, ingin menjadi seperti seseorang yang lain, menjadi tidak biasa-biasa saja, tentu dia harus melakukan perubahan dalam pilihan-pilihannya sesuai dengan pilihan orang yang dia inginkan. Sesederhana itu.

Rasulullah SAW. pun seorang manusia yang sudah dipastikan masuk surga dan beliau masuk surga ya karena pilihan-pilihan yang telah beliau buat semasa hidupnya. Rasulullah SAW. memilih untuk memperjuangkan islam pada masa itu dengn taruhan nyawa dan hartanya. Bagaimana beliau di asingkan, di lempari dengan kotoran, dengan batu. Kan luar biasa tantangan yang dihadapi Rasulullah kala itu. This is berat emang, tapi jika sudah ada Allah dan dakwah mendarah daging mah tetep harus dihadapin itu tantangan. Nah itu merupakan pilihan-pilihan Rasulullah SAW. pada zamannya.

Nah bagaimana dengan kita?apakah ingin menjadi manusia yang seperti ini aja dari dulu ga ada perubahan?atau menjadi aktivis yang biasa-biasa saja?atau menjadi aktivis yang "wow"?kembali pertanyakan kepada diri sendiri dan sembari menyusun pilihan-pilihan untuk mencapai itu semua.

Semangat dan semoga bermanfaat

saiaajuju pamit undur diri