Selasa, 09 Juli 2024

Sejarah akan terulang


ilustrasi perang di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam

"Sejarah akan selalu terulang hanya dengan wujud yang berbeda."

Kawan-kawan percaya kalau kita sekarang sedang berperang? apakah perang hanya dengan senjata? Tidak kawan-kawan. Hari ini, saat ini, kita sedang perang pemikiran, perang melawan hawa nafsu diri sendiri.

Kali ini kita limitasi pembahasan hanya pada perang pemikiran atau sering dikenal dengan sebutan Ghazwul fikri. Sebagaimana pepatah menyatakan bahwa "bila ingin menghancurkan islam, hancurkan generasi mudanya, bila ingin menghancurkan generasi muda, hancurkan akhlaknya". Faktanya, kehancuran akhlak merupakan salah satu tujuan dari Ghazwul fikri.

Ghazwul fikri sering juga disebut dengan perang intelektual, perang kecerdasan, perang otak, perang non konvensional atau perang tak terlihat (proxy war). Melainkan pemikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, propaganda, agitasi, dialog, dan perdebatan yang bersifat defensif maupun opensif.

Secara terminologis Ghazwul fikri bermakna penyerangan dengan berbagai cara terhadap umat Islam guna mengeluarkan mereka dari agamanya atau minimal menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai ajaran ilahiah. Fenomena yang kerap dijumpai saat ini, banyak anak muda yang mulai tergerus akhlaknya akibat doktrin-doktrin yang bersumber dari sosial media. Banyak yang menelan mentah-mentah informasi dari video yang hanya berdurasi 30 detik tanpa ada diskusi ataupun bertanya kepada orang yang dianggap ahli ataupun paham terkait hal yang disampaikan.

Sehingga antar sesama sering terjadi gonjang-ganjing yang tak berkesudahan yang mengakibatkan terpecah belahnya satu kesatuan yang utuh. Ada berbagai ideologi yang secara tersurat dan tersirat berpotensi menjauhkan umat Islam dari agamanya, antara lain: Sekularisme (memisahkan agama dengan kehidupan dan segala aspek-aspeknya), pluralisme agama (menyakini bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama), liberalisme (memahami nash-nash agama yaitu al-Qur’an dan Hadits menggunakan akal pikiran yang bebas atau hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata), dan lain sebagainya.

Saat ini Ghazwul fikri sudah banyak masuk dalam berbagai saluran yang sering dinikmati masyarakat Islam setiap saat, baik melalui media cetak, elektronik maupun media-media lainnya dalam wujud fashion, fun, food, foundation, song, sinema, school, sex, dan sport. Untuk itu, perlu pemahaman yang cukup dan intens agar dapat memfilter itu semua sehingga tidak menjauhkan dari keyakinan agama.

Ini menjadi pr kita bersama kawan-kawan, tiada lain tiada bukan kitalah yang bisa membentengi diri dengan ilmu, untuk menuju anak muda yang berilmu butuh sarana-sarana yang memadai seperti guru untuk tempat bertanya, lingkaran diskusi-diskusi, buku-buku yang mendukung, dan lain sebagainya.

Perlu digarisbawahi bahwa generasi sekarang sangat dekat dengan media digital, dimana informasi sangat cepat seperti kilat sampai kepada konsumennya. Harus pandai dalam memilah informasi yang didapatkan.

Nasihat Imam Syafi'i : "jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu"



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar