Kamis, 26 Februari 2026

Kerajaan yang Runtuh dan Pemimpin yang Bersyukur: Mengapa Surah Saba’ Adalah Peringatan Bagi Era Digital


 "..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,..."
QS. Ibrahim: 7

Terkadang, inspirasi datang dari arah yang paling tidak terduga. Tulisan ini lahir dari sebuah "kebetulan" kecil saat saya memperhatikan dua status WhatsApp secara berurutan, keduanya memiliki jumlah penonton yang berakhir di angka 34. 

Rasa penasaran membawa saya membuka kembali Surah ke-34 dalam Al-Qur'an: Surah Saba’. Ternyata, di dalamnya tersimpan pesan yang sangat menohok tentang kekuasaan, teknologi, dan jebakan kesombongan yang sangat relevan dengan dunia kita hari ini.

Pernahkah kita merasa bahwa semakin sukses seseorang atau sebuah perusahaan, mereka justru semakin rentan kehilangan jati diri? Di dunia yang memuja hustle culture dan pencapaian materi, kita sering lupa bahwa "puncak" adalah tempat yang paling berangin dan licin.

Surah Saba’ bukan sekadar cerita lama tentang padang pasir, melainkan sebuah manual kepemimpinan tentang bagaimana mengelola kekuatan tanpa kehilangan jiwa.

1. Teknologi Bukanlah "Tuhan" Baru

Dalam narasi Surah Saba’ (ayat 12-13), Nabi Sulaiman AS digambarkan sebagai pemimpin dengan akses teknologi yang melampaui zamannya. Beliau memiliki kendali atas angin untuk transportasi kilat dan industri pengolahan tembaga yang canggih. Namun, Sulaiman tidak pernah memuja teknologinya. Baginya, infrastruktur megah dari gedung tinggi hingga kolam raksasa hanyalah instrumen untuk melayani tujuan yang lebih besar.

2. Paradigma I’malu Syukra: Kerja Adalah Bentuk Syukur Tertinggi

Inilah poin paling tajam yang sering kita lewatkan. Dalam ayat 13, muncul instruksi provokatif: “Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur.” Di sini, Al-Qur'an melakukan dekonstruksi total terhadap konsep syukur.

Bagi Sulaiman, syukur bukanlah "ritual lisan" yang dilakukan di akhir pekan setelah target tercapai. Syukur adalah bahan bakar dalam proses bekerja itu sendiri. 

Bayangkan seorang profesional yang bekerja dengan standar akurasi tertinggi bukan karena takut pada KPI atau atasan, melainkan karena ia memandang setiap detak kerjanya sebagai bentuk apresiasi kepada Sang Pemberi Bakat. Mereka tidak bekerja untuk mengejar validasi; mereka bekerja untuk menghormati potensi yang dititipkan. Inilah profesionalisme spiritual: bekerja dengan integritas karena merasa sedang "merawat titipan", bukan sekadar "mencari makan".

3. Tragedi Kaum Saba’: Jebakan Hubris dan Zona Nyaman

Kontras dengan Sulaiman, Kaum Saba’ adalah potret peradaban yang hancur karena hubris (keangkuhan). Mereka memiliki Bendungan Ma’rib yang jenius, namun kesuksesan membuat mereka terlena. Mereka menganggap kemakmuran adalah hak permanen dan mulai abai pada etika serta pemeliharaan sistem. Akhirnya? Bendungan itu jebol, dan kejayaan mereka menjadi dongeng kepedihan dalam semalam.

Analisis Relevansi: Pelajaran untuk Kita Hari Ini

Mengapa kisah dari Surah ke-34 ini menjadi alarm bagi kita yang hidup di era post-truth dan kapitalisme digital?

 * Melawan Hustle Culture yang Toksik: Konsep “I’malu Syukra” adalah obat bagi generasi yang lelah karena hanya mengejar angka. Jika kerja dianggap sebagai syukur, kita akan menemukan makna di setiap prosesnya, bukan hanya stres mengejar hasil akhir.

 * Etika di Atas Inovasi: Kasus Sulaiman mengingatkan bahwa di era AI dan otomatisasi, pemimpin harus memastikan teknologi digunakan untuk membangun kemanusiaan, bukan mengeksploitasinya.

 * Peringatan Too Big to Fail: Sejarah Kaum Saba’ adalah cermin bagi startup unicorn atau korporasi raksasa yang tumbang karena sombong dan abai terhadap nilai-nilai dasar.

 * Keberlanjutan Ekologi: Kemakmuran tanpa rasa syukur (kesadaran akan batas alam) hanya akan memicu bencana lingkungan persis seperti jebolnya bendungan Kaum Saba’.

Apakah "Tongkat" Kita Sedang Dimakan Rayap?

Surah Saba’ diakhiri dengan metafora yang menggetarkan: Sulaiman wafat dalam keadaan berdiri bersandar pada tongkatnya, dan tak ada yang tahu ia telah tiada sampai rayap memakan tongkat tersebut.

Ini adalah pesan bagi kita semua: Kekuasaan, jabatan, dan kekayaan hanyalah "tongkat". Jika fondasi spiritual dan rasa syukur kita keropos, maka kemegahan yang kita tunjukkan ke dunia luar hanyalah kepalsuan yang menunggu waktu untuk runtuh.

Jadi, tanyakan pada diri sendiri: Apakah kesuksesan kita hari ini adalah sebuah "syukur yang bekerja", atau justru awal dari keruntuhan yang tidak kita sadari?

Minggu, 22 Februari 2026

Bengkel Akhlak: Bahtera Itu Dibangun dengan Sabar, Bukan Sekadar Kayu

 

Terus melangkah dalam kebaikan, apapun yang terjadi.

Ada satu jenis lelah yang tidak terlihat.

Lelah karena harus tetap tersenyum, padahal hati sedang runtuh. Lelah karena harus tetap berjalan, padahal arah terasa kabur. Lelah karena harus tetap bertahan, padahal tidak ada yang benar-benar memahami apa yang sedang kamu perjuangkan.

Kamu pernah sampai di titik itu?

Titik di mana kamu ingin berhenti, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Titik di mana kamu tetap hidup seperti biasa, tapi ada bagian dari dirimu yang terasa kosong.

Ramadhan datang setiap tahun, bukan sekadar membawa kewajiban. Ia membawa kurikulum. Ia datang untuk membentuk jiwa. Untuk mengajarkan sesuatu yang tidak diajarkan dunia: bagaimana bertahan, bagaimana percaya, dan bagaimana membangun sesuatu yang akan menyelamatkan kita, bahkan setelah hidup ini berakhir.

Dan jika kita ingin memahami kurikulum itu, kita perlu melihat satu kisah. Kisah seseorang yang membangun bahtera, bukan hanya dengan kayu, tapi dengan kesabaran yang bertahan selama 950 tahun.

Dia adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam.

950 Tahun: Ketika Waktu Tidak Mengubah Keteguhan

Ada satu ayat dalam Al-Qur'an yang terasa sangat sunyi ketika kita benar-benar memahaminya:

"Maka dia tinggal di tengah-tengah mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun." (QS. Al-Ankabut: 14)

Sungguh indah diksi di dalam Al-Qur'an, mengapa Allah mengatakan di dalam ayat tersebut seribu tahun bukan dengan 950 tahun saja? Jawabannya adalah karena Allah mau menunjukkan kepada kita betapa lamanya perjuangan nabi Nuh yang sangat dahsyat dalam mengajak manusia kembali ke jalan Allah.

Sedangkan untuk bulan Ramadhan Allah menggunakan diksi "beberapa hari saja" yang mengisyaratkan bahwa kita tu harus tahan diri dulu untuk bermaksiat, sebentar saja (kata Allah).

Kembali ke kisah Nabi Nuh. Coba bayangkan itu dalam hidup manusia.

Jika satu tahun saja bisa terasa sangat panjang ketika kamu sedang terluka, Nabi Nuh menjalaninya selama 950 tahun. Jika satu bulan saja terasa berat ketika kamu sedang bertahan, Nabi Nuh menjalaninya selama ribuan bulan.

Beliau melihat generasi demi generasi datang dan pergi. Beliau terus berbicara kepada hati yang sama-sama kerasnya. Beliau terus berharap, meski harapan itu berkali-kali tidak disambut.

Allah mengabadikan kata-katanya:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam. Tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari dariku." (QS. Nuh: 5–6)

Beliau tidak berhenti. Bukan karena beliau tidak lelah. Tapi karena beliau tahu, kebenaran tidak kehilangan nilainya hanya karena manusia menolaknya.

Konsistensi semangat mengerjakan kebaikan dan semangat meninggalkan keburukan inilah yang mendorong Nabi Nuh untuk terus melangkah. Bahkan sampai usia tua sehingga Nabi Nuh dijuluki "Syekhul Ambiya".

Dan di sinilah Ramadhan mulai mengajarkan pelajaran yang sama.

Puasa: Belajar Bertahan, Bahkan Ketika Tidak Nyaman

Puasa tidak mengubah dunia di sekitarmu. Dunia tetap sama. Masalah tetap ada. Luka tetap terasa. Tapi puasa mengubah dirimu.

Puasa mengajarkanmu untuk tetap bertahan, bahkan ketika tubuhmu lemah. Ia mengajarkanmu untuk tetap taat, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Puasa adalah latihan sunyi. Tidak ada tepuk tangan untuk itu. Tidak ada yang tahu seberapa kuat kamu menahan dirimu, kecuali Allah.

Dan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa puasa akan memberi syafaat bagi orang yang menjalaninya di hari kiamat. Bayangkan itu.

Puasa membentuk pribadi menjadi orang yang bertakwa. Benefit menjadi orang bertakwa itu banyak banget, diantaranya: dijanjikan surga, diberikan jalan keluar dari setiap permasalahan, diberikan rezeki dari arah yang tak diduga dan jelas rezeki bukan hanya soal uang, tapi juga kesehatan, keimanan, kemudahan dan lain sebagainya.

Rasa lapar yang kamu tahan hari ini, akan berbicara untukmu nanti.

Seperti setiap hari yang dilalui Nabi Nuh selama 950 tahun. Setiap hari itu mungkin terasa kecil saat dijalani. Tapi pada akhirnya, semua itu membentuk bahtera keselamatan.

Al-Qur’an: Cahaya di Tengah Kesunyian

Nabi Nuh tidak berjalan tanpa arah. Beliau berjalan dengan wahyu. Dengan petunjuk dari Allah. Begitu juga dengan kita.

Hidup bisa terasa gelap. Kita tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan. Kita tidak selalu tahu bagaimana harus tetap kuat. Di sinilah Al-Qur’an menjadi cahaya.

Bukan hanya untuk dibaca. Tapi untuk menemani. Untuk menguatkan. Untuk mengingatkan bahwa kita tidak sendirian. Dan Al-Qur'an membentuk pribadi kita menjadi orang yang selalu bersyukur.

Dan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Al-Qur’an juga akan memberi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat.

Ayat-ayat yang kamu baca dalam diam, tidak hilang. Mereka tinggal. Mereka menunggu. Dan suatu hari, mereka akan membelamu.

Seperti bahtera yang dulu dibangun dalam kesunyian.

Do'a: Tempat Terakhir untuk Jatuh Tanpa Hancur

Ada momen ketika Nabi Nuh tidak lagi berbicara kepada manusia.

Beliau berbicara kepada Allah.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah aku." (QS. Al-Qamar: 10)

Itu bukan do'a yang panjang. Tapi itu adalah do'a yang jujur.

Do'a adalah tempat di mana kamu tidak perlu berpura-pura kuat. Tempat di mana kamu boleh mengakui bahwa kamu lelah. Tempat di mana kamu boleh berharap, bahkan ketika semuanya terasa mustahil.

Ramadhan mengembalikan kita ke tempat itu. Tempat di mana hubungan antara hamba dan Allah menjadi nyata.

Ramadhan: Waktu untuk Membangun Bahtera Itu

Bahtera Nabi Nuh tidak dibangun dalam sehari. Ia dibangun dalam waktu yang panjang. Dengan kesabaran yang tidak terlihat. Dengan keyakinan yang tidak dipahami semua orang.

Begitu juga dengan kita. Setiap puasa adalah satu bagian dari bahtera itu.

Setiap ayat yang kamu baca adalah satu bagian dari bahtera itu.

Setiap do'a yang kamu panjatkan adalah satu bagian dari bahtera itu.

Mungkin kamu tidak melihat hasilnya sekarang. Tapi Nabi Nuh juga tidak melihat banjir itu ketika beliau mulai membangun bahtera. Beliau hanya percaya. Dan itu cukup.

Suatu Hari, Kamu Akan Mengerti

Suatu hari nanti, ketika hidup ini selesai, kamu akan melihat apa yang benar-benar menyelamatkanmu.

Bukan hal-hal yang dulu kamu kejar. Tapi hal-hal yang dulu kamu pertahankan.

Puasa yang pernah terasa berat.

Al-Qur’an yang pernah kamu baca dalam diam.

Do'a yang pernah kamu bisikkan dengan air mata.

Semua itu akan datang.

Semua itu akan menjadi syafa'at.

Dan kamu akan menyadari sesuatu yang selama ini tidak kamu lihat. Bahwa selama ini, kamu tidak hanya bertahan. Kamu sedang membangun bahtera.

Perlahan.

Diam-diam.

Dengan sabar.

Dan ketika waktunya tiba, bahtera itu tidak hanya menyelamatkannya. Ia membuktikan bahwa tidak ada kesabaran yang sia-sia di hadapan Allah.

Jadi, jika Ramadhan ini terasa berat bagimu, jangan berhenti. Karena mungkin, inilah saatnya kamu melanjutkan pembangunan bahteramu. Yang suatu hari nanti, akan menyelamatkanmu.

Puasa dan Al-Qur'an adalah 2 syafaat yang kita dapatkan sekaligus dalam bulan yang mulia ini. Maka seharusnya kita manfaatkan dengan maksimal dalam waktu yang sebentar ini untuk membentuk pribadi takwa, dan berkelanjutan hingga berjumpa lagi dengan Ramadhan selanjutnya. Inilah ciri-ciri orang yang disebut dengan "Rosyada".