Terkadang, inspirasi datang dari arah yang paling tidak terduga. Tulisan ini lahir dari sebuah "kebetulan" kecil saat saya memperhatikan dua status WhatsApp secara berurutan, keduanya memiliki jumlah penonton yang berakhir di angka 34.
Rasa penasaran membawa saya membuka kembali Surah ke-34 dalam Al-Qur'an: Surah Saba’. Ternyata, di dalamnya tersimpan pesan yang sangat menohok tentang kekuasaan, teknologi, dan jebakan kesombongan yang sangat relevan dengan dunia kita hari ini.
Pernahkah kita merasa bahwa semakin sukses seseorang atau sebuah perusahaan, mereka justru semakin rentan kehilangan jati diri? Di dunia yang memuja hustle culture dan pencapaian materi, kita sering lupa bahwa "puncak" adalah tempat yang paling berangin dan licin.
Surah Saba’ bukan sekadar cerita lama tentang padang pasir, melainkan sebuah manual kepemimpinan tentang bagaimana mengelola kekuatan tanpa kehilangan jiwa.
1. Teknologi Bukanlah "Tuhan" Baru
Dalam narasi Surah Saba’ (ayat 12-13), Nabi Sulaiman AS digambarkan sebagai pemimpin dengan akses teknologi yang melampaui zamannya. Beliau memiliki kendali atas angin untuk transportasi kilat dan industri pengolahan tembaga yang canggih. Namun, Sulaiman tidak pernah memuja teknologinya. Baginya, infrastruktur megah dari gedung tinggi hingga kolam raksasa hanyalah instrumen untuk melayani tujuan yang lebih besar.
2. Paradigma I’malu Syukra: Kerja Adalah Bentuk Syukur Tertinggi
Inilah poin paling tajam yang sering kita lewatkan. Dalam ayat 13, muncul instruksi provokatif: “Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur.” Di sini, Al-Qur'an melakukan dekonstruksi total terhadap konsep syukur.
Bagi Sulaiman, syukur bukanlah "ritual lisan" yang dilakukan di akhir pekan setelah target tercapai. Syukur adalah bahan bakar dalam proses bekerja itu sendiri.
Bayangkan seorang profesional yang bekerja dengan standar akurasi tertinggi bukan karena takut pada KPI atau atasan, melainkan karena ia memandang setiap detak kerjanya sebagai bentuk apresiasi kepada Sang Pemberi Bakat. Mereka tidak bekerja untuk mengejar validasi; mereka bekerja untuk menghormati potensi yang dititipkan. Inilah profesionalisme spiritual: bekerja dengan integritas karena merasa sedang "merawat titipan", bukan sekadar "mencari makan".
3. Tragedi Kaum Saba’: Jebakan Hubris dan Zona Nyaman
Kontras dengan Sulaiman, Kaum Saba’ adalah potret peradaban yang hancur karena hubris (keangkuhan). Mereka memiliki Bendungan Ma’rib yang jenius, namun kesuksesan membuat mereka terlena. Mereka menganggap kemakmuran adalah hak permanen dan mulai abai pada etika serta pemeliharaan sistem. Akhirnya? Bendungan itu jebol, dan kejayaan mereka menjadi dongeng kepedihan dalam semalam.
Analisis Relevansi: Pelajaran untuk Kita Hari Ini
Mengapa kisah dari Surah ke-34 ini menjadi alarm bagi kita yang hidup di era post-truth dan kapitalisme digital?
* Melawan Hustle Culture yang Toksik: Konsep “I’malu Syukra” adalah obat bagi generasi yang lelah karena hanya mengejar angka. Jika kerja dianggap sebagai syukur, kita akan menemukan makna di setiap prosesnya, bukan hanya stres mengejar hasil akhir.
* Etika di Atas Inovasi: Kasus Sulaiman mengingatkan bahwa di era AI dan otomatisasi, pemimpin harus memastikan teknologi digunakan untuk membangun kemanusiaan, bukan mengeksploitasinya.
* Peringatan Too Big to Fail: Sejarah Kaum Saba’ adalah cermin bagi startup unicorn atau korporasi raksasa yang tumbang karena sombong dan abai terhadap nilai-nilai dasar.
* Keberlanjutan Ekologi: Kemakmuran tanpa rasa syukur (kesadaran akan batas alam) hanya akan memicu bencana lingkungan persis seperti jebolnya bendungan Kaum Saba’.
Apakah "Tongkat" Kita Sedang Dimakan Rayap?
Surah Saba’ diakhiri dengan metafora yang menggetarkan: Sulaiman wafat dalam keadaan berdiri bersandar pada tongkatnya, dan tak ada yang tahu ia telah tiada sampai rayap memakan tongkat tersebut.
Ini adalah pesan bagi kita semua: Kekuasaan, jabatan, dan kekayaan hanyalah "tongkat". Jika fondasi spiritual dan rasa syukur kita keropos, maka kemegahan yang kita tunjukkan ke dunia luar hanyalah kepalsuan yang menunggu waktu untuk runtuh.
Jadi, tanyakan pada diri sendiri: Apakah kesuksesan kita hari ini adalah sebuah "syukur yang bekerja", atau justru awal dari keruntuhan yang tidak kita sadari?

