"Jangan biarkan siapapun mencuri suaramu, karena ketika seorang perempuan berhenti bicara, separuh dari masa depan bangsa ini akan redup."
"Jangan biarkan siapapun mencuri suaramu, karena ketika seorang perempuan berhenti bicara, separuh dari masa depan bangsa ini akan redup."
Dunia pada awal abad ke-20 di Hindia Belanda bukanlah tempat yang ramah bagi seorang perempuan pribumi, apalagi bagi mereka yang bermimpi memiliki kedaulatan atas pikiran dan tubuhnya sendiri. Di tengah kabut pegunungan Padang Panjang yang dingin, sejarah mencatat lahirnya seorang bayi perempuan bernama Rahma El Yunusiyyah pada tahun 1900, sebuah masa di mana nasib perempuan sering kali berakhir di balik pintu-pintu pingitan yang menyesakkan atau yang lebih tragis, menjadi komoditas dalam sistem perbudakan seksual yang terselubung.
Pada era kolonial tersebut, eksploitasi terhadap perempuan bukanlah sekadar isu pinggiran, melainkan bagian dari struktur kekuasaan yang menempatkan perempuan pribumi di kasta terendah dalam hierarki kemanusiaan. Mereka tidak hanya dijajah secara politik oleh Belanda, tetapi juga dijajah secara biologis dan sosial melalui praktik-praktik yang merendahkan martabat.
Banyak perempuan muda saat itu yang dipaksa menjadi "nyai", selir tanpa hak hukum yang hanya berfungsi sebagai pemuas nafsu para pejabat kolonial atau tuan tanah. Sebuah bentuk perbudakan modern yang menghisap harga diri mereka hingga kering. Di sisi lain, kemiskinan sistemik dan ketiadaan akses pendidikan membuat banyak keluarga terpaksa "menjual" anak perempuan mereka ke dalam lingkaran prostitusi atau pernikahan paksa yang tidak manusiawi demi bertahan hidup.
Inilah luka menganga yang disaksikan langsung oleh Rahma, sebuah realitas di mana tubuh perempuan dianggap sebagai barang dagangan dan suaranya dianggap tidak berharga. Realitas pahit inilah yang kelak menjadi api pembakar bagi semangat revolusinya yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh siapa pun.
Rahma tumbuh dalam keluarga ulama yang moderat dan terpandang, namun ia memiliki kepekaan nurani yang melampaui kenyamanan dinding rumahnya. Ia menyadari bahwa diskusi-diskusi intelektual yang hebat tidak akan pernah mampu membebaskan jutaan perempuan yang menangis di ruang-ruang gelap eksploitasi jika tidak ada tindakan radikal yang diambil untuk membongkar akar masalahnya.
Ia melihat dengan jernih bahwa senjata utama kaum penjajah dan sistem patriarki feodal dalam menindas perempuan adalah kebodohan yang dipelihara. Tanpa pendidikan, perempuan tidak akan pernah tahu bahwa mereka memiliki hak atas tubuh mereka sendiri; tanpa ilmu, mereka akan terus percaya bahwa nasib mereka memang sudah digariskan hanya untuk melayani dan menjadi objek pemuas kebutuhan laki-laki.
Ketidakpuasan ini memuncak ketika ia melihat bahwa sekolah-sekolah yang ada saat itu baik milik pemerintah kolonial maupun madrasah tradisional hanya memberikan porsi pendidikan yang sangat terbatas bagi perempuan, seolah-olah perempuan tidak butuh kecerdasan untuk mengarungi hidup. Baginya, perempuan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membaca atau menulis; mereka membutuhkan perisai moral, spiritual, dan intelektual untuk melawan stigma yang memposisikan mereka sebagai makhluk lemah.
Dengan keberanian yang melampaui zamannya, pada 1 November 1923, di usia yang baru menginjak 23 tahun, Rahma secara resmi mendirikan Madrasah Diniyyah Puteri di Padang Panjang. Ini bukan sekadar bangunan sekolah, melainkan sebuah pernyataan perang terbuka terhadap perbudakan, kebodohan, dan segala bentuk degradasi moral yang menimpa kaum perempuan di tanah air.
Pendirian Diniyyah Puteri adalah sebuah revolusi kultural yang sangat radikal karena Rahma secara sadar memisahkan pendidikan perempuan dari laki-laki. Langkah ini diambil bukan untuk membatasi pergaulan, melainkan untuk menciptakan sebuah "ruang aman" (safe space) di mana perempuan bisa berbicara jujur tentang pengalaman hidup mereka, termasuk isu-isu sensitif yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat.
Di bawah kepemimpinannya, kurikulum sekolah tersebut dirancang untuk menciptakan "izzah" atau kemuliaan diri yang paripurna, sebuah konsep yang menegaskan bahwa kehormatan perempuan tidak terletak pada penilaian laki-laki, melainkan pada kualitas ketakwaan dan kecerdasannya. Ia mengintegrasikan ajaran agama yang emansipatif yang menekankan bahwa di hadapan Tuhan, perempuan memiliki derajat yang setara dalam menuntut ilmu dengan pengetahuan kesehatan reproduksi yang sangat maju untuk ukuran zaman itu.
Rahma memahami bahwa dengan memahami anatomi, fungsi, dan kesehatan tubuhnya sendiri, seorang perempuan tidak akan mudah diperdaya, dilecehkan, atau dipaksa ke dalam situasi eksploitasi seksual karena mereka memiliki kesadaran penuh atas kedaulatan dirinya. Ia juga memberikan pelatihan keterampilan ekonomi dan kemandirian agar para lulusannya memiliki daya tawar yang kuat di masyarakat, sehingga mereka tidak perlu menggantungkan hidup pada pernikahan yang opresif atau terjebak dalam kemiskinan yang sering kali menjadi pintu masuk utama bagi para sindikat perdagangan manusia.
Melalui pendidikan ini, Rahma sedang menggeser paradigma dunia, dari memandang perempuan sebagai objek pasif yang bisa diperjualbelikan, menjadi subjek aktif yang mampu memimpin, berpikir kritis, dan menentukan nasibnya sendiri secara mandiri.
Namun, perjuangan Rahma El Yunusiyyah menghadapi tembok besar bernama pemerintah kolonial Belanda yang memandang setiap pergerakan pribumi dengan penuh kecurigaan. Bagi penjajah, seorang perempuan cerdas yang mampu mengorganisir massa dan membangkitkan kesadaran akan hak-hak asasi adalah ancaman yang jauh lebih menakutkan daripada pemberontakan bersenjata.
Rahma secara vokal menentang kebijakan-kebijakan diskriminatif seperti Ordonansi Sekolah Liar yang bertujuan mematikan nafas pendidikan pribumi. Ia tidak hanya berdiam diri di dalam kelas, ia terjun langsung ke medan politik, menjadi motor penggerak organisasi perempuan, dan dengan berani menyuarakan penolakan terhadap praktik asusila yang sering kali dilegalkan secara terselubung oleh otoritas kolonial demi kepentingan ekonomi dan stabilitas politik mereka.
Keberaniannya menyuarakan kemerdekaan dan perlindungan terhadap martabat perempuan membuatnya harus mencicipi dinginnya sel penjara Belanda karena dianggap sebagai provokator yang berbahaya. Namun, bagi Rahma, penjara hanyalah perpindahan ruang perjuangan. Di balik jeruji besi, ia tetap teguh, terus mengajar, dan memberikan kekuatan kepada sesama tahanan perempuan bahwa tubuh mereka boleh terkungkung, tetapi visi besar tentang pembebasan perempuan tidak akan pernah bisa dibatasi oleh jeruji mana pun.
Ia adalah sosok yang dengan tegas percaya bahwa kemerdekaan Indonesia tidak akan pernah lengkap selama kaum perempuan di dalamnya masih dihantui oleh rasa takut akan pelecehan dan eksploitasi.
Dampak dari gerakan yang dimulai dari sebuah ruang kecil di kaki Gunung Singgalang ini perlahan mulai merambah ke kancah internasional, membuktikan bahwa kekuatan ide yang tulus tidak akan pernah bisa dibatasi oleh letak geografis. Pada pertengahan abad ke-20, reputasi Diniyyah Puteri sebagai model pendidikan perempuan terbaik di dunia Islam sampai ke telinga para ulama besar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Saat itu, Al-Azhar yang merupakan institusi pendidikan Islam tertua dan paling bergengsi di dunia sekalipun belum memiliki sistem pendidikan yang khusus dan komprehensif bagi perempuan. Pada tahun 1957, Syekh Abdurrahman Taj selaku Rektor Al-Azhar melakukan kunjungan bersejarah ke Padang Panjang dan terkesima melihat bagaimana seorang perempuan pribumi mampu membangun institusi yang begitu disiplin, modern, dan memiliki kurikulum yang sanggup melahirkan perempuan-perempuan tangguh yang paham akan hak-hak mereka di hadapan dunia.
Terinspirasi oleh model yang dibangun Rahma, Universitas Al-Azhar akhirnya memutuskan untuk membuka Kulliyatul Banat (fakultas khusus perempuan), sebuah langkah revolusioner yang selamanya mengubah wajah pendidikan tinggi di Timur Tengah. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasa-jasanya, Al-Azhar menganugerahi Rahma gelar "Syaikhah", sebuah gelar kehormatan yang sangat langka dan belum pernah diberikan kepada perempuan mana pun sebelumnya di dunia Islam.
Ini adalah pengakuan dunia bahwa revolusi martabat yang dilakukan Rahma telah berhasil mengangkat posisi perempuan dari dasar jurang penindasan menuju puncak kehormatan intelektual global.
Warisan yang ditinggalkan oleh Rahma El Yunusiyyah hingga akhir hayatnya pada tahun 1969 bukan hanya berupa deretan gedung sekolah atau piagam penghargaan internasional, melainkan sebuah transformasi mentalitas yang mendalam bagi bangsa ini. Ia telah membuktikan kepada sejarah bahwa cara terbaik untuk menghancurkan sistem perbudakan seksual dan segala bentuk eksploitasi terhadap perempuan bukanlah dengan memohon belas kasihan dari para penindas, melainkan dengan memperkuat kapasitas intelektual, kemandirian ekonomi, dan keteguhan spiritual kaum perempuan itu sendiri.
Melalui Diniyyah Puteri, ia telah melahirkan ribuan "pasukan cahaya" perempuan-perempuan terdidik yang tersebar di seluruh pelosok nusantara dan Asia Tenggara untuk menjadi pendidik, pemimpin, dan pembela hak-hak sesamanya. Rahma telah menanamkan benih bahwa seorang perempuan adalah tiang negara; jika ia kuat dan cerdas, maka runtuhlah segala bentuk kezaliman yang mencoba mengusiknya. Ia mengubah duka menjadi daya, dan mengubah stigma menjadi sebuah kehormatan yang abadi bagi seluruh perempuan Indonesia.
Bagi perempuan zaman sekarang yang hidup di era modern, kisah Rahma El Yunusiyyah bukanlah sekadar dongeng masa lalu yang harus dikagumi, melainkan sebuah kompas yang sangat relevan untuk mengarungi tantangan zaman yang mungkin terasa mirip meski hadir dalam kemasan yang berbeda.
Kita saat ini hidup di masa di mana ancaman terhadap martabat perempuan tidak lagi selalu datang dalam bentuk perbudakan fisik yang kasar, melainkan melalui eksploitasi digital yang halus, perdagangan manusia yang kian canggih di balik janji pekerjaan, hingga objektifikasi tubuh di ruang publik yang sering kali dipoles dengan nama tren atau kebebasan yang semu. Jika dahulu Rahma melawan sistem "nyai", maka hari ini kita ditantang untuk melawan segala bentuk kekerasan seksual, pelecehan di ruang digital, dan tekanan sosial yang masih mencoba memenjarakan nilai seorang perempuan hanya sebatas tampilan fisiknya semata.
Pesan Rahma kepada kita semua sangat lantang, jangan pernah membiarkan orang lain, sistem, maupun teknologi mendefinisikan nilai dirimu hanya sebatas kegunaan seksual atau materi. Jadilah perempuan yang memiliki kedaulatan penuh atas pikiran dan tubuhmu sendiri, karena hanya dengan ilmu pengetahuan yang mendalam dan kemandirian yang kokohlah kamu bisa membangun benteng perlindungan yang tak akan mampu ditembus oleh penindasan mana pun.
Di era di mana martabat sering kali dikomoditaskan dan harga diri dianggap murah, jadilah penerus semangat "Syaikhah" yang berani berkata tidak pada setiap bentuk ketidakadilan. Teruslah menuntut hak pendidikan setinggi-tingginya dan jadilah pemimpin bagi dirimu sendiri, karena kemerdekaan sejati bukan hanya berarti bebas dari penjajah bangsa, tetapi merdeka dari rasa takut, merdeka dari ketergantungan yang merendahkan, dan merdeka untuk menjadi manusia mulia yang bermanfaat bagi semesta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar