Kita berbicara tentang tanah air, Indonesia. Hingga saat ini kualitas SDM di Indonesia masih tergolong rendah. Data BPS menunjukkan bahwa tenaga kerja di Indonesia masih didominasi oleh tamatan SD ke bawah, yaitu sebesar 39,10% (februari 2022).
Tenaga kerja dengan pendidikan terakhir SMP sebesar 18,23%, SMA 18,23%, dan SMK 11,95%. Sementara tenaga kerja dengan pendidikan akhir diploma I/II/III dan universitas hanya sebesar 12,60% (BPS 2022). Padahal salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas SDM adalah pendidikan dan pelatihan yang bisa beradaptasi dengan perubahan sosial masyarakat.
Di sisi lain, data terkait dengan pengangguran berdasarkan pendidikan terakhir didominasi oleh SMK 10,38% (Februari 2022). Pengangguran yang menamatkan pendidikan SD ke bawah sebesar 3,09%, SMP sebesar 5,61%, SMA sebesar 8,35%. Sedangkan pengangguran dengan pendidikan terakhir diploma sebesar 6,09% dan universitas sebesar 6,17% (BPS 2022).
Berangkat dari data di atas, ada kisah menarik. Suatu ketika, seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Indonesia bertandang ke berbagai negara demi mencari referensi yang pas untuk pendidikan di Indonesia. Rektor itu mendatangi seorang ulama di Timur Tengah. Ia bertanya harus dari mana memulai membangun pendidikan di negerinya. Ia benar-benar bingung. Ternyata berganti menteri dan basis kurikulum tak berpengaruh apa-apa, selain menambah kerumitan masalah.
Sang syekh bertanya, "Di Indonesia, bagaimana sistem pendidikan saat ini, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi?"
Rektor itu menjawab, "Paling rendah mulai dari SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun, S1 4 tahun, S2 sekitar 1 1/2 - 2 tahun. Setalah itu S3 untuk yang paling tinggi."
"Jadi, untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun, ya?" tanya syekh.
"Begitulah, syekh," jawab rektor.
"Lantas, bagaimana jika hanya lulus SD saja, pekerjaan apa yang bisa didapatkan oleh seorang lulusan SD?"Syekh kembali bertanya.
Rektor bingung, seorang anak lulusan SD bisa bekerja apa? "Paling jadi buruh lepas, penyapu jalan, tukang kebun, dan sejenisnya, syekh," jawab rektor.
"Jika lulus SMP bagaimana?"
"Untuk lulusan SMP mungkin jadi office boy atau cleaning service, syekh,"
"Kalau SMA bagaimana?"
"Kalau lulusan SMA masih agak mending. Di negara kami, lulusan SMA bisa menjadi operator di perusahaan-perusahaan," jelas sang rektor.
"Kalau lulusan D3, S1, bagaimana?" tanya syekh.
"Jika lulus D3 atau S1, bisa menjadi staf kantor. Kalau S2, bisa langsung menjadi manajer sebuah perusahaan," ungkap rektor.
"Jadi, untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan, berarti harus menghabiskan waktu hingga 15 sampai 16 tahun lamanya?" tanya syekh keheranan.
"Begitulah, syekh," jawab rektor sambil tertunduk lesu.
Sang syekh tersebut lalu mencoba membuat perbandingan, "Bagaimana jika seorang anak menghabiskan waktu 6 tahunnya untuk menghafalkan Al-Qur'an, apakah cukup waktu selama itu untuk menghafal seluruh juz dalam Al-Qur'an?" tanya syekh.
"Tentu, in syaa Allah sangat cukup syekh,"
"Adakah di negerimu seorang penghafal Al-Qur'an yang mejadi penyapu jalan, tukang kebun, dan sejenisnya?"
"Tidak ada syekh," jawab rektor seraya mengerti sedikit demi sedikit arah pembicaraan syekh tersebut.
"Kemudian, anak tersebut melanjutkan 3 tahun untuk mengkaji tafsir dan 3 tahunnya lagi untuk mengkaji hadist. Adakah, di negerimu penghafal Al-Qur'an yang paham tafsir dan hadist menjadi cleaning service, office boy, atau operator di pabrik seperti lulusan SMA tersebut?"
"Aku yakin tidak ada, syekh," jawab sang rektor dengan mantap.
Setelah mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, akhirnya, sang ulama menyampaikan pesannya kepada rektor tersebut. "Jika kamu ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, dan bermanfaat bagi bangsa dan terutama agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti, kamu harus mengubah sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada dunia menjadi pendidikan yang berorientasi akhirat. Karena jika kita fokus pada akhirat, in syaa Allah dunia akan didapat pula. Namun, jika sistem pendidikan hanya berorientasi pada dunia, dunia dan akhirat belum tentu dapat."
Jika diisi ilmu fisika, ia akan menjadikan fisika sebagai sarana untuk lebih mengenal keagungan Allah SWT. Seperti orang yang bertauhid, ia tidak akan serta-merta mengatakan bahwa rotasi merupakan gerakan bumi berputar pada porosnya saja, tetapi ia akan meyakini dan mengatakan bahwa rotasi merupakan gerakan bumi pada porosnya yang digerakkan Allah Sang Maha Pencipta segala sesuatu. Tanpa Allah SWT, gerakan putaran rotasi tidak akan pernah ada. Inilah tugas dan amanah para orang tua untuk memberikan pendidikan ilahiyah kepada anak-anaknya. Bukankah amanah itu akan dimintai pertanggungjawabannya?Jadi, masihkah ada rasa kurang percaya diri menjadi seorang "Arsitektur" peradaban?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar