Selasa, 21 Februari 2023

Esensi Pendidikan

 

"Sebuah peradaban bukan mati dibunuh, melainkan mati karena bunuh diri"

~Toynbee


Pendidikan adalah penanaman nilai, moral, dan spiritual karena kualitas manusia dilihat dari ketiga hal tersebut, bukan semata tentang gelar akademis yang melangit, karir yg melejit, dan segenap hal yang bersifat kebendaan. Kualitas peradaban dilihat dari kualitas manusianya, kehancuran peradaban dimulai dari kehancuran manusianya.

Kita berbicara tentang tanah air, Indonesia. Hingga saat ini kualitas SDM di Indonesia masih tergolong rendah. Data BPS menunjukkan bahwa tenaga kerja di Indonesia masih didominasi oleh tamatan SD ke bawah, yaitu sebesar 39,10% (februari 2022).

Tenaga kerja dengan pendidikan terakhir SMP sebesar 18,23%, SMA 18,23%, dan SMK 11,95%. Sementara tenaga kerja dengan pendidikan akhir diploma I/II/III dan universitas hanya sebesar 12,60% (BPS 2022). Padahal salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas SDM adalah pendidikan dan pelatihan yang bisa beradaptasi dengan perubahan sosial masyarakat.

Di sisi lain, data terkait dengan pengangguran berdasarkan pendidikan terakhir didominasi oleh SMK 10,38% (Februari 2022). Pengangguran yang menamatkan pendidikan SD ke bawah sebesar 3,09%, SMP sebesar 5,61%, SMA sebesar 8,35%. Sedangkan pengangguran dengan pendidikan terakhir diploma sebesar 6,09% dan universitas sebesar 6,17% (BPS 2022).

Berangkat dari data di atas, ada kisah menarik. Suatu ketika, seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Indonesia bertandang ke berbagai negara demi mencari referensi yang pas untuk pendidikan di Indonesia. Rektor itu mendatangi seorang ulama di Timur Tengah. Ia bertanya harus dari mana memulai membangun pendidikan di negerinya. Ia benar-benar bingung. Ternyata berganti menteri dan basis kurikulum tak berpengaruh apa-apa, selain menambah kerumitan masalah.

Sang syekh bertanya, "Di Indonesia, bagaimana sistem pendidikan saat ini, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi?"

Rektor itu menjawab, "Paling rendah mulai dari SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun, S1 4 tahun, S2 sekitar 1 1/2 - 2 tahun. Setalah itu S3 untuk yang paling tinggi."

"Jadi, untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun, ya?" tanya syekh.

"Begitulah, syekh," jawab rektor.

"Lantas, bagaimana jika hanya lulus SD saja, pekerjaan apa yang bisa didapatkan oleh seorang lulusan SD?"Syekh kembali bertanya.

Rektor bingung, seorang anak lulusan SD bisa bekerja apa? "Paling jadi buruh lepas, penyapu jalan, tukang kebun, dan sejenisnya, syekh," jawab rektor.

"Jika lulus SMP bagaimana?"

"Untuk lulusan SMP mungkin jadi office boy atau cleaning service, syekh,"

"Kalau SMA bagaimana?"

"Kalau lulusan SMA masih agak mending. Di negara kami, lulusan SMA bisa menjadi operator di perusahaan-perusahaan," jelas sang rektor.

"Kalau lulusan D3, S1, bagaimana?" tanya syekh.

"Jika lulus D3 atau S1, bisa menjadi staf kantor. Kalau S2, bisa langsung menjadi manajer sebuah perusahaan," ungkap rektor.

"Jadi, untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan, berarti harus menghabiskan waktu hingga 15 sampai 16 tahun lamanya?" tanya syekh keheranan.

"Begitulah, syekh," jawab rektor sambil tertunduk lesu.

Sang syekh tersebut lalu mencoba membuat perbandingan, "Bagaimana jika seorang anak menghabiskan waktu 6 tahunnya untuk menghafalkan Al-Qur'an, apakah cukup waktu selama itu untuk menghafal seluruh juz dalam Al-Qur'an?" tanya syekh.

"Tentu, in syaa Allah sangat cukup syekh,"

"Adakah di negerimu seorang penghafal Al-Qur'an yang mejadi penyapu jalan, tukang kebun, dan sejenisnya?"

"Tidak ada syekh," jawab rektor seraya mengerti sedikit demi sedikit arah pembicaraan syekh tersebut.

"Kemudian, anak tersebut melanjutkan 3 tahun untuk mengkaji tafsir dan 3 tahunnya lagi untuk mengkaji hadist. Adakah, di negerimu penghafal Al-Qur'an yang paham tafsir dan hadist menjadi cleaning service, office boy, atau operator di pabrik seperti lulusan SMA tersebut?"

"Aku yakin tidak ada, syekh," jawab sang rektor dengan mantap.

Setelah mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, akhirnya, sang ulama menyampaikan pesannya kepada rektor tersebut. "Jika kamu ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, dan bermanfaat bagi bangsa dan terutama agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti, kamu harus mengubah sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada dunia menjadi pendidikan yang berorientasi akhirat. Karena jika kita fokus pada akhirat, in syaa Allah dunia akan didapat pula. Namun, jika sistem pendidikan hanya berorientasi pada dunia, dunia dan akhirat belum tentu dapat."

Jika diisi ilmu fisika, ia akan menjadikan fisika sebagai sarana untuk lebih mengenal keagungan Allah SWT. Seperti orang yang bertauhid, ia tidak akan serta-merta mengatakan bahwa rotasi merupakan gerakan bumi berputar pada porosnya saja, tetapi ia akan meyakini dan mengatakan bahwa rotasi merupakan gerakan bumi pada porosnya yang digerakkan Allah Sang Maha Pencipta segala sesuatu. Tanpa Allah SWT, gerakan putaran rotasi tidak akan pernah ada. Inilah tugas dan amanah para orang tua untuk memberikan pendidikan ilahiyah kepada anak-anaknya. Bukankah amanah itu akan dimintai pertanggungjawabannya?Jadi, masihkah ada rasa kurang percaya diri menjadi seorang "Arsitektur" peradaban?

Selasa, 14 Februari 2023

Menyemai Benih Keberhasilan #Part 1

 


"Bukan hanya ditujukan untuk pecundang yang ingin jadi pemenang, tapi juga kepada pemenang yang ingin meraih kemenangan yang lebih besar"

~Bong Chandra

~Belajar dari pohon tomat

Pernah melihat pohon tomat yang berbuah sekitar 12.000 buah tomat di atas batangnya?jika belum, menurut temen-temen apakah hal ini mungkin terjadi? let's go kita simak ceritanya.

Pohon tomat seperti ini benar-benar ada dan pernah di pamerkan dalam pameran sains dan teknologi Tsukuba Jepang tahun 1985. Menurut temen-temen apa yang telah dilakukan kepada pohon tomat ini?Jika berpikir seperti kebanyakan orang lainnya, mungkin akan menduga bahwa tomat ini adalah hasil rekayasa genetik. Ternyata, sama sekali bukan gaess. Tanaman tomat itu dihasilkan dari biji tomat biasa. Iya bener, dari biji tomat biasa. Biji yang diperoleh dari tanaman tomat pada umumnya yang hanya menghasilkan 20-30 buah saja per batangnya. Lalu apa sebenarnya rahasianya?

Ternyata tanaman tomat ini dikembangkan dengan teknik hidroponik gaess. Lalu apa yang membedakannya? yang membedakannya adalah "Lingkungannya", tanaman ini tumbuh di air bukan di tanah.

Semua orang mengira bahwa tanah sangatlah penting untuk pertumbuhan tanaman. Tapi, ada seorang ahli agronomi ternama di Jepang, Shigeo Nozawa melakukan penelitian dan menunjukkan fakta kebalikannya. Bahwa tanaman justru terhalang oleh tanah ketika tanaman itu ditumbuhkan di dalamnya. Malah ketika dia menumbuhkan tanaman tomat itu di air, hasilnya luar biasa. Dengan serta merta efektivitas fotosintesis meningkat. Hasilnya adalah tanaman tomat menghasilkan buah 1.000 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan tomat yang berada  di lingkungan konvesional. Sungguh mengesankan. Bukti betapa sungguh luar biasanya ciptaan Allah.

Jika penelitian Nozawa telah membantu tanaman menyadari potensi mereka, bagaimana dengan manusia?Jika tumbuhan saja bisa seperti itu, maka manusia sangat bisa untuk jauh lebih daripada itu. Bukankah Allah telah mengatakan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna?

Untuk menjadi hebat, milikilah keberanian untuk mengubah lingkungan kita. Sungguh sangat tidak mudah memberikan keyakinan diri bahwa "AKU" bisa melakukannya ketika semua orang disekitarku terus saja mengatakan bahwa aku akan gagal.

Ada kata-kata menarik dari salah satu pembalap moto GP. Kurang lebih begini :

"Aku berharap aku tak akan menemukan batas kemampuanku sehingga aku selalu punya alasan untuk terus melakukan peningkatan"

~Marc Marquez

Rabu, 08 Februari 2023

Tauhid, Ekologi dan Lingkungan

 

Said Nursi

Sebelum kita ke tema kali ini, lucu ga sih kalo kita belajar tentang pemikiran seseorang tapi ga tau seseorang itu siapa?ya kan. Nah oleh karena itu, kita kenalan dulu ya sama "Pemikir" yang luar biasa keren ini.

Namanya Said Nursi yang lahir pada tahun 1290 H/1873 M di kampung yang bernama Nurs dekat Van Golu di daerah Bitlis, Turki. Keluarga Said Nursi ini sangat memperhatikan pendidikan terutama pendidikan agama, mereka sangat menjunjung tinggi syariat Islam sebagai landasan yang kuat. Terbukti kakak perempuannya, Alimah Hanim memiliki reputasi sebagai orang yang mempunyai pengetahuan luas dalam agama. Kakak laki-lakinya, Abdullah adalah seorang Hoca, yaitu guru pertama Said Nursi. Adik-adiknya, Muhammad menjadi guru di madrasah desa Arvas dan Abdul Majid yang terkenal dengan terjemahannya atas dua karya Said Nursi yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Turki.

Sejak kecil kehidupan Said Nursi memang sudah dekat dengan alam. Ia merupakan anak yang cerdas, selalu memperhatikan segala hal, dan menanyakan hal-hal yang mengganjal dalam dirinya. Di sekolah, said nursi mendapat bimbingan dari Syaikh Muhammad Jalali. Ia menunjukkan kesungguhannya dengan mempelajari dan membaca buku yang tebalnya sekitar dua ratus halaman lebih setiap harinya meskipun terkadang bahasanya sulit dimengerti. 

Kehebatan dan kecerdasan yang dimiliki Said Nursi telah menyebar di kota Siirt, membuat ulama di kawasan itu berkumpul dan mengundang Said Nursi untuk mengajaknya berdebat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Said Nursi menerima undangan tersebut dan ia berhasil menjawab segala pertanyaan yang diajukan kepadanya. Hal tersebut membuat orang-orang yang melihat kagum dan nama Said Nursi menjadi terkenal, sehingga ia dijuluki "Said-i Meshur" atau Said yang terkenal.  

Said Nursi mempunyai prinsip lebih baik mati daripada berhutang budi kepada seseorang. Alasan mengapa ia selalu menolak pemberian orang lain adalah: pertama, orang yang salah persepsi menuduh para ulama Muslim menggunakan pengetahuan sebagai alat untuk mendapatkan uang. Kedua, kita berkewajiban mengikuti nabi dalam mendakwahkan kebenaran. Para nabi hidup sama sekali tidak tergantung pada manusia. Ketiga, Muslim harus memberi dengan nama Allah dan menerima dengan nama Allah. Keempat, kepuasan hati, hemat, dan kepercayaan pada Allah adalah suatu harta yang tak terbatas yang tidak dapat ditukarkan dengan hal lain. Said Nursi mampu menghabiskan sisa hidupnya dengan mengikuti prinsip yang sama dan tergantung hanya kepada kemurahan Allah. Kelima, pengalaman-pengalaman dari beberapa tahun belakangan telah meyakinkan Said Nursi bahwa kesehatan dan kecenderungannya tidak memperbolehkannya menerima sesuatu dari manusia, khususnya dari golongan orang-orang kaya dan pejabat. Keenam, Alasan yang paling penting ialah Said Nursi lebih menyukai hidup dalam kemandirian dari orang adalah Ibnu al-Hajar, orang yang paling tinggi kepercayaan dirinya dalam mazhab `amal. 

Jauh sebelum dunia Barat mengenal isu-isu ekologis melalui buku Silent Spring karya Rachel Carson, yang terbit pada 27 September tahun 1962, dengan ketajaman visinya, Said Nursi telah menuliskan isu-isu ekologis yang sangat penting, dengan bercorak filosofis sekaligus sufistik. Tak hanya itu, Nursi melihat perang dunia I yang terjadi pada tanggal 28 Juli 1914 sampai dengan 11 November 1918 memiliki dampak buruk yang sangat signifikan terhadap kemanusiaan dan lingkungan hidup pada masa itu.

Perang ini memberi konsekuensi kemanusiaan yang sangat mendalam. Dari 60 juta tentara Eropa yang dimobilisasi mulai tahun 1914 sampai 1918, 8 juta di antaranya gugur, 7 juta cacat permanen, dan 15 juta luka parah. Jerman kehilangan 15,1% populasi pria aktifnya, Austria-Hongaria 17,1%, dan Prancis 10,5%. Sekitar 750.000 warga sipil Jerman tewas akibat kelaparan yang disebabkan oleh blokade Inggris selama perang. Pada akhir perang, kelaparan telah menewaskan sekitar 100.000 orang di Lebanon. Perkiraan terbaik untuk jumlah korban tewas akibat kelaparan Rusia 1921 adalah 5 juta sampai 10 juta orang. Pada tahun 1922, terdapat 4,5 juta sampai 7 juta anak tanpa rumah di Rusia akibat satu dasawarsa kehancuran sejak Perang Dunia I.

Selain sebagai bencana kemanusiaan, perang ini telah menjadi bencana ekologis atau bencana lingkungan hidup yang sangat parah. Dalam Perang Dunia I, dikenal istilah “bombturbation”, sebuah istilah untuk menggambarkan pencampuran tanah dengan bahan peledak. Penanaman bahan peledak sampai jauh di bawah permukaan tanah. Saat bom meledak, kesuburan tanah serta cadangan air tanah menjadi hancur dan tanah mengalami kesulitan untuk pemulihan alaminya. Dampaknya, banyak kawasan pertanian produktif dan kawasan hutan menjadi kawasan mati. Kerusakan tanah dan hutan diperparah karena dijadikan jaringan parit untuk perang. Setidaknya, 23.225,76 hektar kawasan hutan mengalami kerusakan yang sangat parah. Dengan demikian, perang terah merubah bentang alam secara drastis.

Dampak merusak lainnya terhadap lingkungan hidup adalah penggunaan gas beracun. Gas-gas yang berbahaya tersebar di seluruh parit untuk membunuh tentara. Contoh gas yang diterapkan selama Perang Dunia I adalah gas air mata (aerosol yang menyebabkan iritasi mata), gas mustard (gas beracun yang menyebabkan kulit melepuh dan perdarahan). Gas-gas tersebut menyebabkan total 100.000 kematian, Medan perang tercemar, dan sebagian besar gas menguap ke atmosfer.

Said Nursi memulai pandangannya tentang Qur’anic Environmentalism yang dimulai dari definisinya mengenai Al-Qur’an. Umumnya para ulama mendefinisikan Al-Qur’an dengan pandangan yang sangat umum, yaitu firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw., melalui perantara Malaikat Jibril. Berbeda dengan pandangan itu, Nursi menulis definisi Al-Qur’an sebagai berikut:

“Al-Qur’an adalah penjelas azali buku alam semesta sekaligus penafsir abadi terhadap lisan yang membaca ayat-ayat penciptaan. Ia adalah penjelasan terhadap buku alam semesta baik yang zahir maupun yang batin. Al-Qur’an adalah pengungkap perbendaharaan Nama-nama Ilahi yang tersembunyi baik yang berada di langit maupun di bumi. Ia adalah kunci penyingkap kebenaran yang tersembunyi di belakang setiap fenomena. Al-Qur’an adalah lisan dunia batin bagi dunia zahir. Ia adalah perbendaharaan nikmat abadi dari Tuhan Yang Maha Penyayang sekaligus tanda azali dari Dzat Yang Maha Suci. Al-Qur’an adalah matahari dan fondasi spiritual Islam. Ia adalah peta suci untuk kehidupan dunia dan akhirat....(The Words, hal. 376-378)”

Belajar dari Al-Qur’an, Said Nursi menekankan pentingnya semua spesies hewan. Bahkan Nursi menyebut hewan sebagai petugas Ilahi, bekerja sebagai manifestasi keberadaan Allah dan sebagai pengingat keagunganNya. Ia menulis: “Alam semesta ini adalah sebuah buku yang penuh dengan makna yang berasal dari Zat Yang Maha Tunggal, Maha Kekal. Semua makhluk yang berada di bumi sampai dengan langit merupakan kumpulan mu’jizat sekaligus surat resmi dari Allah. Semua makhluk di alam ini adalah tentara. Semua makhluk dari mulai mikroba, semut, burung elang, badak sampai dengan planet-planet adalah petugas Ilahi yang rajin.” (The Rays, hal. 20)

Selain menyebut nama hewan. Al-Qur’an juga menyebut entitas pohon. Menurut hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, di dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras Kata pohon diungkapkan dengan berbagai derivasinya disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 27 kali. sedangkan kata-kata taman atau kebun dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 146 kali. Walaupun Al-Qur’an tidak menyebutkan perintah menanam pohon secara eksplisit, namun pohon sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an karena pentingnya keberadaan mereka bagi kehidupan manusia. Sejumlah ayat menyebutkan katakata pohon, buah-buahan, kebun-kebun atau taman-taman secara eksplisit. Selain disebutkan untuk menunjukkan entitas nabati, kata pohon dengan berbagai derivasinya digunakan dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan sejumlah perumpamaan. Tujuan utama dari hal ini adalah untuk menjaga agar konsep tentang pohon agar senantiasa hidup dalam hati dan pikiran manusia.

Said Nursi sesungguhnya ingin mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara Al-Qur’an atau recited book (buku yang dibaca) dengan alam semesta atau observed book (buku yang diobservasi). Baginya, Al-Qur’an mendorong manusia untuk merenungkan tanda-tanda keberadaan Tuhan di alam raya yang tak terhitung jumlahnya.

Pesan-pesan ekologis Said Nursi sangat relevan dengan kondisi umat Islam, khususnya di Indonesia. Tak sedikit umat Islam yang mempelajari Islam, khsususnya Al-Qur’an, tapi terjebak dalam kubangan literalistik, kehilangan spirit untuk melakukan melakukan perubahan transformatif dalam merespon krisis Lingkungan hidup yang terjadi. Akhirnya, Al-Qur’an hanya menjadi dokumen yang dibaca dan dihafal berulang-ulang. Padahal, keadilan sosio-ekologis adalah salah satu pesan utama di dalam Al-Qur’an.

Umat Islam harus berkepentingan dengan isu krisis lingkungan hidup karena sejumlah alasan, yaitu: pertama, secara teologis, umat Islam diperintahkan untuk memakmurkan dan menjaga keseimbangan planet bumi. Bahkan al-Qur’an, dalam banyak ayat, dengan sangat tegas melarang berbuat kerusakan di atas muka bumi; kedua, secara historis, Nabi Muhammad dan juga para sahabat telah memberikan teladan mulia dalam menjaga alam, salah satunya dengan menetapkan kawasan Hima untuk daerah konservasi air; ketiga, secara ekologis, jika lingkungan rusak maka akan berdampak terhadap berbagai ibadah ritual dalam Islam. Contohnya, krisis air akibat rusaknya hutan akan berdampak terhadap kualitas ibadah shalat. Lebih jauh, umat Islam berkewajiban untuk mewujudkan peradaban ekologis yang mampu menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakat dunia; keempat, secara filosofis, krisis ekologis yang mendorong krisis iklim adalah manifetsasi dari krisis paradigma (fikrah) atau krisis spiritualitas yang melanda umat manusia saat ini, dimana alam dilihat secara instrumental dengan kalkulasi untung dan rugi semata. Padahal, al-Qur’an sebagaimana dinyatakan oleh Said Nursi, mengajarkan bahwa alam memiliki nilai spiritual pada dirinya karena bertasbih kepada Allah Swt.

Tidak mengherankan Nursi berstatemen bahwa “bencana terbesar umat Islam saat ini adalah keringnya jiwa, nihilnya spiritualitas yang diinjakkan oleh filsafat dan ilmu-ilmu modern. Bukti yang sangat jelas adalah kerusakan multidimensi perang dunia yang terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia. Lebih lanjut, Ilmu-ilmu alam yang lahir dan tumbuh dari rahim peradaban barat bagi Nursi membahayakan bagi umat Islam, karena menyebabkan kebodohan dan kerusakan. Sebagaimana telah dibuktikan oleh Said Nursi, krisis lingkungan hidup adalah persoalan bersama. Krisis ini akan tetap menjadi ancaman umat manusia ke depan, selama manusia tidak kembali kepada akar spiritualitasnya.

Senin, 09 Januari 2023

Hidup adalah Pilihan

 


"Kamu yang sekarang adalah hasil dari pilihan-pilihan kamu di masa lalu
Kamu di masa depan adalah hasil  dari pilihan-pilihan kamu pada masa sekarang"


Pernah ga sih terbesit dipikiran kamu, kenapa aku seperti ini? that's true, itu adalah hasil dari pilihan-pilihan kamu. Hidup adalah Pilihan, kelihatannya simple, tapi ternyata emang se penting itu untuk dikaji. Karena ini menyangkut akan jadi apa kamu nantinya?

Sejatinya, sebenarnya saat ini kita sedang menulis kisah hidup kita sendiri di sebuah buku yang berjudul nama kita sendiri dan saat ini pun kita sedang menulisnya, setiap hari, setiap waktu setiap lembar demi lembar. Anehnya banyak yang kita temukan saat ini mereka yang tidak menyesuaikan pilihan-pilihannya dengan yang dia inginkan. Misal, inginnya muda berfoya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Itukan keliru, ngawur kalo bahasa gaulnya, yang sebenarnya tidak akan terjadi karena hidup adalah pilihan.

Dengan memahami hal ini seharusnya jika seseorang ingin sukses, ingin menjadi seperti seseorang yang lain, menjadi tidak biasa-biasa saja, tentu dia harus melakukan perubahan dalam pilihan-pilihannya sesuai dengan pilihan orang yang dia inginkan. Sesederhana itu.

Rasulullah SAW. pun seorang manusia yang sudah dipastikan masuk surga dan beliau masuk surga ya karena pilihan-pilihan yang telah beliau buat semasa hidupnya. Rasulullah SAW. memilih untuk memperjuangkan islam pada masa itu dengn taruhan nyawa dan hartanya. Bagaimana beliau di asingkan, di lempari dengan kotoran, dengan batu. Kan luar biasa tantangan yang dihadapi Rasulullah kala itu. This is berat emang, tapi jika sudah ada Allah dan dakwah mendarah daging mah tetep harus dihadapin itu tantangan. Nah itu merupakan pilihan-pilihan Rasulullah SAW. pada zamannya.

Nah bagaimana dengan kita?apakah ingin menjadi manusia yang seperti ini aja dari dulu ga ada perubahan?atau menjadi aktivis yang biasa-biasa saja?atau menjadi aktivis yang "wow"?kembali pertanyakan kepada diri sendiri dan sembari menyusun pilihan-pilihan untuk mencapai itu semua.

Semangat dan semoga bermanfaat

saiaajuju pamit undur diri